Kecelakaan Pesawat Membuat Trauma, Apa yang Harus dilakukan?

Advertisements

Kalteng Today – Lifestyle, – Di awal tahun, negara kita sudah di terpa musibah kecelakaan pesawat. Dua hari lalu, tepatnya hari sabtu tanggal 9 Januari 2021 pesawat Sriwijaya Air jatuh di perairan Kepulauan Seribu. Pesawat Sriwijaya Air SJY182 berjenis Boeing 737-500 dinyatakan hilang kontak hanya empat menit setelah lepas landas, yaitu pukul 14.40.

Kejadian tragis ini tentu memberikan syok yang luar biasa, terutama bagi para keluarga korban. Mungkin dengan pengeksposan berita tersebut dimana-mana, akan membuat kita berpikir berulang kali untuk naik pesawat. Namun, kita tidak bisa menampik kenyataan bahwa pesawat adalah satu-satunya cara bagi kita untuk dapat ke suatu tempat yang jauh dengan waktu singkat, seperti perjalanan dinas dan untuk melaksanakan ibadah haji. Lantas, apa yang harus kita lakukan agar rasa trauma itu bisa berkurang dan perlahan menghilang?

Photo by Marco López on Unsplash
  1. Berdoa

Tidak ada cara lain yang dapat membuat diri kita lebih tenang dan damai dalam menghadapi sesuatu, selain dengan berdoa. Memohon bantuan pada Tuhan YME agar dapat membantu kita melepaskan segala trauma serta memberikan keselamatan selama di perjalanan.

Baca Juga

  1. Hadapi dan taklukkan

Apapun masalah yang ada pada diri kita, baik itu ketakutan maupun kekhawatiran tidak akan dapat hilang jika kita malah lari darinya. Solusi untuk menghilangkan trauma itu adalah dengan menghadapinya. Semakin kita terbiasa menghadapinya, maka secara perlahan trauma itu akan hilang dengan sendirinya.

  1. Fokus

Fokuskan pada tujuan utama kita naik pesawat, apakah dalam rangka bekerja ataupun beribadah dan sebagainya. Apapun itu, lihatlah dari sudut pandang yang berbeda yaitu kebahagiaan yang akan Anda dapatkan setelah dapat menjalani keperluan tersebut. Fokuskan pada hal yang positif, sehingga pikiran negatif tidak lagi muncul, suasana hati kita pun akan membaik.

  1. Lakukan hal positif

Isilah keseharian dengan berbagai kegiatan positif yang melibatkan anggota keluarga dan teman agar kita tidak merasa sendiri, seperti berolahraga, mengikuti kegiatan sosial, kursus masak, menulis jurnal atau diary, dan masih banyak lagi.

  1. Tatap masa depan, lupakan yang sudah berlalu

Melupakan yang sudah berlalu sangatlah penting, terutama jika masa lalu itu hanyalah menjadi racun bagi kita jika terus mengingatnya. Ingatlah, bahwa semuanya terjadi di masa lalu sedangkan hidup haruslah terus berjalan.

Cara-cara di atas dapat diaplikasikan, baik pada orang yang pertama kali akan naik pesawat maupun yang sudah beberapa kali terbang namun masih sulit menghadapi traumanya. Baik acrophobia atau fobia berada di tempat tinggi, aerophobia atau fobia menjalani penerbangan, dan claustraphobia atau fobia berada di tempat sempit atau tertutup, sebenarnya dapat di atasi dengan cara-cara di atas. Namun, fobia-fobia tersebut tetap harus dilihat prosentasenya, jika cukup berat maka disarankan untuk segera menemui psikolog atau dengan ahli sejenisnya.

Baca Juga:

Sriwjaya Air Jatuh, Hashtag #SJ182 Menggema di Semua Media Sosial

Sebelum Media Sosial dan Ponsel Pintar Datang, ini yang Dilakukan Anak-anak 90-an

Jika penyebab lainnya disebabkan adanya keluarga dan teman yang menjadi korban, terutama jika sebelumnya pernah mengalami kecelakaan pesawat, ini termasuk dalam kategori yang sangat berat sehingga biasanya membutuhkan penanganan lebih khusus serta harus didampingi oleh keluarga dan lingkungan teman yang positif.

Setiap orang tentu memiliki pandangan sendiri dalam keinginannya menghadapi suatu trauma. Semua tentu kembali pada masing-masing individu, apakah ingin maju dan menjalani hidup yang lebih baik di masa depan atau masih terus terpuruk dan menderita dengan bayang-bayang masa lalu. Menghilangkan trauma tentu sangat berat dan tidak mudah, tapi tidak ada hal yang tidak mungkin untuk dilakukan selama kita optimis dan memohon pertolongan Tuhan. [Red]

BacaJuga

Add New Playlist