Kaltengtoday.com – Deru mesin kapal begitu memekakkan telinga dikesunyian malam itu. Dalam kegelapan kapal kecil kayu bermuatan 10 penumpang begitu sigap membelah laut Jawa yang kala itu itu berombak tenang. Semilir udara laut dan hujan gerimis menambah kantuk siapapun yang berada di dalamnya. Tak terasa sudah duapuluh menit berlalu sejak kapal meninggalkan dermaga Pantai Kubu usai menjalankan kewajiban sholat Subuh.
“Paling lambat jam 04.30 sudah ada di Tanjung Kaluang kalau mau menyaksikan terbitnya matahari (sunrise),”ujar Ahmad Wahyudi sang kapten kapal yang juga merangkap sebagai pemandu rombongan.
Tanjung Kaluang yang menjorok ke Laut Jawa mempunyai luas 2.500 Km2. Dipeta wilayah ini berada dibagian bawah Pulau Kalimantan, tepat di Desa Kubu, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalteng.
Untuk pengelolaanya, tanjung ini berada dibawah pengawasan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Bagi pelancong tempat ini merupakan destinasi yang wajib dikunjungi.
Selain berpasir putih bersih, tempat merupakan lokasi yang ideal untuk snorkeling dan melihat matahari terbit. Dan yang utama tempat ini adalah surganya para penyu sisik Kalimantan untuk berkembang biak. Dengan hanya dengan membayar Rp. 35 ribu per ekor, wisatawan bisa merasakan sensasinya melepaskan anak penyu kelaut lepas.

Beberapa orang warga nampak tengah mengunjungi Tanjung Keluang, Kobar.
Di Tanjung Kaluang saat ini ada sekitar 300 ekor anak penyu sisik berusia 1 bulan yang tengah dikembangbiakkan di penangkaran yang didirikan sejak Tahun 2011 lalu. Penangkaran ini dikelola oleh 8 petugas yang secara bergiliran bekerja disana, salah satunya Ahmad Wahyudi.
“Saat ini kami sedang berusaha untuk menetaskan sekitar 300 butir telur penyu,”ujarnya.
Setelah menetas anak penyu ini akan dimasukan kedalam sebuah bak besar berisi air berukuran 2×2 meter dan setiap hari mendapatkan asupan berupa udang kering (ebi) sejak usia nol tahun hingga dua bulan.
“Ketika berusia tiga bulan ia harus sudah dilepaskan kelaut sebab kalau usianya lebih dari itu insting untuk mencari makan di laut sana sangat sulit,”jelas Wahyudi.
Permasalahan yang dihadapi petugas penangkaran dilapangan yakni masih banyak warga sekitar tanjung yang secara sembunyi-sembunyi melakukan pencurian saat penyu bertelur di pantai. Padahal untuk seekor penyu sekali bertelur dia akan mengeluarkan telur sebanyak 200 butir yang kemudian ditimbun dengan pasir agar tidak diganggu predator termasuk manusia.
Namun sayangnya hingga saat ini pencurian telur penyu dipantai masih banyak dilakukan warga sekitar. Mereka menjual telur itu seharga Rp. 5 ribu per butir. “Padahal kita sering melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Dan kami yang hanya 8 orang petugas jelas tak mampu menjaga semuanya,”ujar dia.
Laksita Kusuma, wisatawan lokal yang juga warga Palangka Raya mengaku baru pertama kali mengunjungi Tanjung Kaluang ini.
“Saya bersama keluarga datang ingin mencoba sensasinya melepas penyu sisik dan melihat matahari terbit, tapi sayang karena habis hujan jadi melihat matahari terbitnya batal,”ujarnya.
Karena itu untuk mengobati karena tidak bisa melihat matahari terbit iapun mengajak keluarganya untuk melepaskan penyu kelaut.
“Cukup membayar Rp. 35 ribu per ekor, keluarga saya senang melepas penyu kelaut. Hitung-hitungan ini wisata edukasi,”ujar pegawai swasta ini.

Dhan – KT














Discussion about this post