Kaltengtoday.com, Lifestyle – Pernah nggak sih merasa capek banget dengan jadwal yang padat, notifikasi yang nggak berhenti bunyi, sampai tuntutan buat sukses di usia muda? Kalau iya, berarti kamu nggak sendirian.
Belakangan ini, istilah gaya hidup yang mengutamakan ketenangan sedang naik daun di media sosial. Tapi, sering kali kita tertukar antara dua konsep populer slow living dan soft living.
Meskipun sekilas terlihat mirip, sama-sama anti ribet dan ogah stres, ternyata keduanya punya “nyawa” yang berbeda, lho. Agar tidak salah kaprah dan bisa pilih mana yang paling cocok buat kesehatan mental kamu, yuk kita bahas perbedaannya.
Baca Juga : Tren Membaca 2026: Cara BookTok dan Bookstagram Ubah Wajah Literasi Indonesia
Slow Living: Hidup dengan Kesadaran Penuh
Konsep slow living berakar dari gerakan “slow movement” yang muncul di Italia pada akhir 1980-an. Awalnya, gerakan ini hadir sebagai respons terhadap budaya serba cepat, termasuk maraknya konsumsi makanan instan yang mengorbankan kualitas.
Seiring waktu, slow living berkembang menjadi gaya hidup yang mengajak seseorang untuk menjalani hidup dengan kesadaran penuh.
Menurut Stephanie O’dea dalam bukunya yang terbit tahun 2024, slow living adalah tentang membangun hidup yang bermakna di tengah dunia yang serba buru-buru.
Pelakunya bukan berarti malas-malasan, tapi mereka lebih memilih untuk melakukan segala sesuatu secara sengaja dan terukur. Caranya bisa lewat manajemen waktu yang rapi, berani bilang “nggak” untuk hal yang nggak penting, dan benar-benar meninggalkan budaya kerja berlebihan atau hustle culture.
Gaya hidup ini cocok bagi Kamu yang ingin hidup lebih terarah, tidak gampang terdistraksi, dan punya kendali atas prioritas hidup.














Discussion about this post