Kaltengtoday.com, Lifestyle – “Kapan terakhir kamu baca buku?” Bukan cuma sekadar membaca dokumen pekerjaan atau pesan singkat di ponsel, tapi benar-benar duduk tenang menyesap setiap kalimat dari lembaran kertas.
Kalau jawaban kamu adalah “tadi pagi” atau “semalam sebelum tidur”, berarti kamu sudah menjadi bagian dari gelombang besar yang sedang melanda anak muda di tahun 2026 ini.
Kalau dulu membaca identik dengan aktivitas berat seorang “kutu buku” dan membosankan, kini justru berubah jadi gaya hidup yang makin relevan dan kekinian. Fenomena ini tak lepas dari pengaruh media sosial, khususnya TikTok lewat tren BookTok dan Instagram melalui komunitas Bookstagram.
Dua platform ini sukses mengubah cara generasi muda menikmati literasi. Membaca bukan lagi sekadar hobi personal, tapi sudah menjadi bagian dari identitas dan cara berekspresi.
Mematahkan Stigma “Malas Baca”
Jika kita kilas balik, laporan UNESCO pada tahun 2011-2012 yang menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Artinya, dari seribu orang, cuma satu yang rajin membaca. Angka itu sempat membuat kita dicap sebagai bangsa yang tertinggal dalam literasi. Sedih sih.
Tapi, kamu harus bangga karena potret suram itu mulai memudar. Data terbaru dari Perpustakaan Nasional menunjukkan bahwa Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) kita terus naik. Jika pada 2023 lalu angkanya berada di level 66,77, di tahun 2024 angka ini melesat naik ke angka 72,44. Kenaikan konsisten ini membuktikan bahwa membaca sudah mulai bergeser menjadi kebutuhan gaya hidup yang esensial buat kamu dan generasi kita.
Baca Juga : Pengurus MUI Bartim Yang Dilantik Diharapkan Perkuat Literasi dan Dakwah Digital
Saat Buku Menjadi Fashion Statement
Fenomena ini tentu tidak muncul begitu saja. Ada peran besar dari platform visual seperti Bookstagram yang mengubah cara kita melihat buku. Sekarang, buku tidak lagi hanya dinilai dari kedalaman isinya, tapi juga dari estetika sampulnya yang memanjakan mata.
Banyak anak muda sekarang memandang buku sebagai bagian dari identitas personal. Memajang tumpukan buku dengan palet warna senada atau yang populer dengan istilah bookshelf wealth, menjadi simbol status intelektual sekaligus selera seni yang tinggi. Membaca telah bertransformasi menjadi sebuah pengalaman yang sangat shareable, menjadikannya tren yang jauh lebih organik dan keren.














Discussion about this post