Kaltengtoday.com, Entertainment – Falcon Pictures kembali menghadirkan kejutan dengan mengumumkan adaptasi film terbaru mereka. Setelah KKN Desa Penari yang diambil dari cuitan di medsos, kali ini berasal dari salah satu thread viral dan menyayat hati yang pernah muncul di Twitter (kini X): “WALUH KUKUS”.
Baca Juga : Keren! “Abadi Nan Jaya” Raih Peringkat #1 Global Non-English Film di Netflix
Bersamaan dengan pengumuman tersebut, Falcon juga merilis poster perdana filmnya, langsung memancing nostalgia sekaligus rasa penasaran warganet.
Menariknya, kisah Waluh Kukus sebenarnya sempat direncanakan menjadi novel oleh Falcon Publishing pada 2024. Namun proyek tersebut sempat tidak terdengar kabarnya, hingga akhirnya dikonfirmasi akan naik kelas menjadi karya layar lebar.
“Masih ingat cerita Kak @ainthebooks
Siap-siap ketemu Yati di bioskop 😌
Waluh Kukus segera! 🧡”
Tulis akun resmi @falconpictures_.
Buat kamu yang mungkin sudah lupa detail thread-nya, mari kita rekap kembali kisah menyentuh yang berasal dari pengalaman masa kecil pemilik akun @ainayed, atau yang akrab disapa Ainay.
Kisah Asli Waluh Kukus yang Viral di X
Cerita Waluh Kukus bermula dari kondisi ekonomi keluarga Ainay yang kala itu sedang sulit. Suatu hari, ibunya mendapatkan waluh (labu kuning) sebagai hadiah setelah membantu seseorang panen. Alih-alih dimasak untuk keluarga, sang ibu memilih menyimpannya.
Bukan tanpa alasan, ibunya ingin ikut menyumbang makanan untuk tadarusan di musala. Walaupun hidup pas-pasan, beliau ingin tetap memberi sesuatu, meski sederhana. “Alhamdulillah punya waluh, bisa buat nyumbang takjil orang tadarus,” kenang Ainay dalam thread-nya.
Ibu Ainay pun membuat waluh kukus dalam jumlah banyak, berharap sumbangan itu bisa bermanfaat. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Saat makanan itu dibagikan di musala, seorang anak bernama Yati menjadi tokoh yang tak akan dilupakan warganet.
Yati dengan lantang meremehkan waluh kukus tersebut menyebut bentuknya mirip “t*i”. Ia menolak menyentuhnya, bahkan hanya menyeker-nyeker ujung jari seolah jijik. Lebih buruk lagi, Yati menghasut anak-anak lain agar tidak memakannya.
Alhasil, waluh kukus buatan ibu Ainay pulang dalam keadaan hampir utuh.
Tak ingin membuat ibunya kecewa, Ainay kecil mengambil keputusan yang begitu emosional, ia mencoba menghabiskan seluruh waluh kukus itu seorang diri.
Baca Juga : Keren! “Abadi Nan Jaya” Raih Peringkat #1 Global Non-English Film di Netflix
Di teras langgar yang sepi, dengan perut penuh dan hati yang serasa diremas, ia makan sebanyak mungkin sambil menahan tangis.














Discussion about this post