Kaltengtoday.com, Tips & Trik – Seringkali, puasa hanya sering dipahami sebagai aktivitas spiritual, yang berfokus pada pengendalian diri. Tapi, dalam perspektif psikologi dan psikiatri modern, puasa juga dapat dilihat sebagai proses regulasi diri yang mempengaruhi emosi, fungsi kognitif, dan keseimbangan mental.
Ada beberapa penelitian tentang puasa religious, yang menunjukkan bahwa pembatasan makan yang dilakukan secara sadar, ternyata dapat membantu stabilisasi mood, meningkatkan kontrol impuls, serta memperkuat makna hidup.
Baca Juga : Hadiri Buka Puasa Bersama, Fairid Naparin Gaungkan Semangat Kolaborasi
Istilah “detoksifikasi psikologis”, bukan berarti mentah secara harafiah, dimana ada proses mengeluarkan racun secara fisik. Namun menggambarkan proses penataan ulang pola pikir, emosi, dan kebiasaan mental yang selama ini mungkin terlalu penuh oleh distraksi dan tekanan.
Dalam ilmu psikiatri, regulasi emosi berkait erat dengan kemampuan seseorang mengelola perasaan tanpa kehilangan kendali. Puasa melatih individu untuk menghadapi rasa tidak nyaman, seperti rasa lapar, lelah, atau keinginan, tanpa langsung bereaksi. Ketika seseorang mampu menahan dorongan, bagian otak yang berfungsi sebagai “rem emosi” (prefrontal cortex) menjadi lebih aktif. Hal ini membantu mengurangi reaksi impulsif, meningkatkan kesabaran, serta memberi ruang bagi respons yang lebih sadar.
Puasa sendiri, selalu diiringi praktik spiritual seperti doa, sembahyang, membaca kitab suci, dan refleksi diri. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai spiritual coping. Artinya adalah, cara seseorang menggunakan nilai spiritual untuk menghadapi tekanan hidup. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang mempraktikkan coping spiritual cenderung memiliki rasa makna hidup yang lebih kuat, tingkat harapan yang lebih tinggi, serta kemampuan menerima situasi sulit dengan lebih tenang.
Baca Juga : PT Adaro Indonesia ‘Tantang’ PWI Bartim Dalam Acara Buka Puasa Bersama
Untuk itu, bagi Anda yang menjalankan puasa, disarankan sekali menjalani secara sehat. Ini dapat membantu tubuh beradaptasi terhadap perubahan ritme hidup. Banyak studi membuktikan adanya perbaikan persepsi stres dan kesejahteraan psikologis selama periode puasa religius.
Dari sudut pandang psikiatri, proses ini berkaitan dengan regulasi hormon stres, peningkatan resiliensi, serta kemampuan menghadapi tekanan. Itulah, dalam ajaran agama Islam, ditekankan bahwa puasa tidak sekedar menahan lapar dan haus. Tapi ada esensi dan manfaat yang jauh lebih besar daripada itu. [Red]
Sumber : rsmmbogor.com














Discussion about this post