Selesaikan Konflik Dengan Nilai Budaya

Kalteng TodayPalangka Raya, – Tim Periset RISPRO LPDP yang dibentuk oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Palangka Raya (LPPM UPR) melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Prototipe dan Evaluasi berbasis Nilai Keindonesiaan di Hotel Luwansa Kota Palangka Raya, Selasa (6/4).

Rektor Universitas Palangka Raya (UPR), Andri Elia yang diwakili oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Prof. Kumpiady Widen turut memberikan materi di kegiatan tersebut.

Adapun materi yang disampaikan oleh Prof. Kumpiady Widen yakni Upaya Penyelesaian Konflik dari Perspektif Budaya, dengan membuka profil konflik sosial di Indonesia.

“Secara kesejahteraan bangsa Indonesia sesungguhnya bukanlah bangsa yang bebas dari konflik sosial atau sosial conflict free. Jatuh bangun dan perluasan kekuasaan pemerintahan kerajaan – kerajaan Hindu (seperti Majapahit) dan Islam (Mataram) di nusantara sangat kental dengan strategi konflik sosial yang bahkan menjadi mode of struggle mereka,” katanya dalam pemaparan materi.

Dirinya mengungkapkan, isu-isu kritikal yang membingkai konflik sosial dan sering kali dijumpai dalam sistem sosial di segala tataran seperti konflik antar kelas sosial, ras, moda produksi dalam perekonomian,sumber daya alam dan lingkungan dan antar pemeluk agama.

“Sedangkan bingkai konflik sosial seperti sektarian, politik, gender, antar komunitas, inter state, dan regional,” tuturnya.

Lebih lanjut, dirinya mengungkapkan penyelesaian konflik menurut berbagai perspektif budaya. Seperti Jimpen, Singer Tampung Tawar, dan Sumpah Adat yang merupakan penyelesaian konflik masyarakat adat Dayak dan lebih mengutamakan penyelesaian secara damai dan kekeluargaan.

“Tetapi apabila kesepakatan tidak ditemukan, maka ada beberapa cara yang bisa ditempuh, walaupun Sumpah Adat adalah cara yang dihindari,” tambahnya.

Baca Juga : UPR Siap Bangun SDM Bersama Danrem 102 Panju Panjung

Sedangkan, penyelesaian konflik di lampung yang menggunakan Pill Pasenggiri yang memiliki makna sebagai cara hidup atau Way Of Life.

“Kemudian kita bisa melihat saudara kita yang ada di Ambon, dengan penyelesaian konflik dengan Pela yang dimana dianggap sebagai suatu ikatan semua penduduk antar negeri,” tukasnya. [Red]

Baca Juga

Add New Playlist