Masyarakat pun mendengar, namun persoalan yang mereka bawa belum ikut pulang sebab bagi warga, persoalannya bukan sekadar apakah mereka mau bersabar atau tidak.
Mereka ingin tahu, sampai kapan kesabaran harus menjadi satu-satunya jawaban atas tuntutan yang belum menemukan kepastian.
Di KM 98, Kamis malam itu, sebuah pemandangan sederhana berubah menjadi satire yang sulit dihindari, bupati berada di tengah masyarakat, kapolres meminta warga bersabar, portal menjadi pembatas dan jangkos menjadi latar belakangnya.
Warga datang membawa tuntutan, pemerintah datang membawa pesan kesabaran, perusahaan memiliki portal sebagai batas dan limbah sawit menjadi pemandangan di tengah perdebatan tentang siapa yang sebenarnya sedang membuang apa kepada siapa.
Baca Juga : Ahli Perdata PT BAP Ungkap Batas Gugatan Rp104 Miliar, Tiga Tergugat Dapat Angin Segar
Pada akhirnya, jangkos mungkin hanya limbah dari proses produksi sawit, tetapi malam itu, di tengah aksi masyarakat empat desa, jangkos justru berubah menjadi metafora tentang sesuatu yang selama ini dirasakan masyarakat.
Ketika tuntutan belum menemukan kepastian, jangan-jangan yang terus diproduksi bukan hanya minyak sawit, tetapi juga kesabaran warga dan terakhir pertanyaannya tinggal satu, sampai kapan masyarakat harus berdiri di depan portal, sementara kepastian masih berjalan mencari pintunya?.[Red]














Discussion about this post