Tetapi di belakang keduanya, ada tumpukan sisa produksi sawit yang justru menarik perhatian sementara didepan, ada tuntutan. Di belakang, ada jangkos. Di tengahnya, ada pemerintah yang diminta menjadi penengah.
Pemandangan itulah yang kemudian disinggung perwakilan Desa Bangkal, Sapriyadi, S.H.
Dalam tanggapannya setelah pertemuan bersama Bupati dan Kapolres Seruyan, Sapriyadi mengatakan masyarakat tetap bertahan di lokasi karena menurutnya akses menuju kawasan perkebunan justru telah tertutup oleh pihak perusahaan.
Baca Juga : Jelang Perundingan Plasma PT BAP, Kapolres Seruyan Beddy Suwendi Diuji Tuntaskan Kebuntuan Tuntutan Warga
Kemudian ia menunjuk ke arah jangkos yang berada di belakang Bupati dan Kapolres. “Yang sudah menutup akses mereka adalah perusahaan itu sendiri dan itu di belakang Bapak itu sampah, Pak,” ujar Sapriyadi.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi jika dicermati, sindirannya cukup panjang. Sampah berada di belakang pemerintah. Warga berada di depan pemerintah. Dan portal perusahaan berada di hadapan warga.
Sebuah komposisi yang mungkin tidak pernah sengaja dirancang sebagai simbol oleh pihak perusahaan yang menjadi perhatikan publik selama ini, namun malam itu, simbol tersebut hadir dengan sendirinya.
Sapriyadi kemudian mengatakan, selama aksi masyarakat seolah dipandangkan dengan sampah. “Masyarakat selama aksi ini dipandangkan dengan sampah,” katanya.
Bagi Sapriyadi, persoalan tersebut bukan sekadar tentang jangkos yang berada di lokasi, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar limbah hasil produksi buah kelapa sawit.
Sebab terkadang, yang membuat masyarakat merasa dipandang rendah bukanlah apa yang dikatakan, melainkan bagaimana mereka diperlakukan.
Sebelumnya, Kapolres Seruyan meminta masyarakat untuk bersabar.
Kapolres mengatakan kedatangan Bupati ke lokasi merupakan bagian dari upaya untuk membantu masyarakat menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi.
Baca Juga : Mediasi Buntu, Warga Kunci Tenggat 5 September : Operasional PT BAP Terancam Dihentikan
Ia juga meminta warga menunggu langkah pemerintah dan meyakini Bupati akan bekerja sesuai prosedur.
“Harap bersabar. Kita pastikan, kita yakinkan beliau adalah bapak kita, orang tua kita,” ujar Kapolres.
Pesan itu terdengar menenangkan, tetapi di lapangan, masyarakat tetap berdiri di depan portal dan dihadapkan dengan sekali sampah hasil produksi buah kelapa sawit.
Mereka diminta bersabar, portal tetap berdiri dan jangkos tetap berada di belakang. Barangkali inilah bentuk kesabaran paling konkret, warga diminta menunggu, sementara benda-benda di sekeliling mereka justru lebih cepat hadir daripada kepastian.
Kapolres meminta masyarakat menunggu perkembangan berikutnya dari Bupati Seruyan.














Discussion about this post