Kaltengtoday.com, Tamiang Layang – Meski tak sebanjir beberapa waktu sebelumnya, produksi buah-buahan dari Kabupaten Barito Timur, masih sanggup bersaing di pasaran luar kabupaten. Tentu saja, harganya sudah tak semeroket era panen kemarin. Cempedak, misalnya, jika semula per kilogram bisa mencapai Rp30 ribu. Kini paling hanya Rp20 ribu – Rp 23 ribu saja.
“Untuk durian sekarang sudah hampir tidak ada lagi, Yang masih cukup banyak, ya cempedak, papaken, papuan, manggis, langsat, dan beberapa buah kecil lain. Lawan berat kita di pasar ya langsat Pontianak dengan durian Kasongan. Tapi selalu saja ada pembeli atau pangsa pasar yang loyal,” ungkap Ny Nia, pebisnis buah dari Ampah, Kecamatan Dusun Tengah, tadi (Jumat, 6/2/2025)
Baca Juga : Meski Tak Berlimpah, Produksi Buah di Bartim Tetap Jadi Berkah
Menurut ibu empat anak ini, sementara pasar yang dilayani selain dan di luar Bartim, masih sebatas Palangka Raya saja. “Kami terkendala sarana transportasi dan jumlah orang yang mengurusi. Saya hanya memakai mobil MPV ini, dan hanya dibantu dua anak saya, kadang suami saat tidak sibuk bekerja. Padahal, ada juga pemesan dari tetangga sebelah di provinsi tetangga,” jelasnya.
Untuk pembeli umum dan pedagang eceran, tentu saja dirinya menerapkan harga berbeda. Namun meski keuntungannya lumayan, dia, juga beberapa pensuplai buah lain ke pasar luar kabupaten, mengaku tak mentang-mentang dalam menerapkan harga. Untuk pedagang lapakan yang berlangganan, apalagi dalam jumlah yang banyak, ada diskon. Kadang, malah bisa memberikan bonus sedikit tambahan buah.
Curah hujan yang masih terbilang tinggi di Bartim, rupanya masih berpengaruh pada produksi buah. Terbukti seperti di Desa Runggu Raya, Kecamatan Paku dan Desa Malintut, Kecamatan Raren Batuah, beberapa jenis buah masih terbilang stabil stoknya, seperti papaken dan cempedak. Yang terbilang kurang untuk Bartim, mungkin hanya nanas saja.
Baca Juga : Dewan Minta Tunda Persetujuan Bersama Dua Buah Raperda
Selain memang Kabupaten Kapuas yang diakui kuantitas dan kualitasnya, tipikal tanah di Bartim masih kurang mendukung produksi nanas. Tanah mereka, lebih banyak pasir putihnya. Hampir sama seperti Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat,” cerita Mardi, salah seorang petani yang juga berbisnis menjual buah musiman dari Kecamatan Paku. [Red]














Discussion about this post