Kaltengtoday.com, Entertainment – Komedian sekaligus presenter Rina Nose akhirnya angkat bicara melalui akun media sosial instagram pribadinya mengenai keputusan pribadinya menjalani operasi plastik pada bagian hidung. Bagi Rina, langkah tersebut bukan sekadar mengikuti tren kecantikan, melainkan keputusan yang melalui proses panjang, penuh pertimbangan, serta melibatkan banyak aspek.
Menurut Rina, operasi plastik tidak bisa dipandang sebagai prosedur sederhana untuk mengubah penampilan. Ia menilai tindakan tersebut merupakan keputusan etis dan estetis yang cukup kompleks karena menyangkut berbagai hal, mulai dari pemahaman bentuk wajah hingga faktor biologis.
“Operasi plastik bukan sekadar prosedur untuk mengubah penampilan, apalagi cuma ikut-ikutan. Ini keputusan etis dan estetis yang cukup rumit karena melibatkan banyak aspek,” ungkapnya.
Rina menjelaskan bahwa sebelum mengambil keputusan, ia melakukan riset dan mempertimbangkan berbagai hal, termasuk rasio serta geometri wajah agar hasilnya tetap harmonis.
Selain itu, ia juga memikirkan aspek biologis seperti struktur tulang, kulit, hingga fungsi jaringan agar tidak berdampak pada masalah kesehatan di kemudian hari.
Ia juga menyinggung perbedaan karakter fisik manusia di berbagai belahan dunia yang dipengaruhi oleh kondisi alam, pola lingkungan, serta iklim. Faktor-faktor tersebut menurutnya turut membentuk ciri fisik seseorang, termasuk bentuk wajah dan hidung.
Sebagai figur publik yang dikenal memiliki “trade mark” pada bagian hidungnya, keputusan untuk melakukan operasi hidung bukanlah hal yang datang secara tiba-tiba. Rina mengaku membutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk benar-benar memantapkan diri.
“Keputusan melakukan operasi hidung merupakan hasil pertimbangan dari perjalanan panjang selama lebih dari 10 tahun, melalui riset yang cukup dan kesiapan diri untuk menerima segala perubahan persepsi, baik dari diri sendiri maupun lingkungan,” jelasnya.
Dalam proses pemulihan, Rina menyadari bahwa tidak hanya kondisi fisik yang membutuhkan waktu untuk kembali stabil, tetapi juga faktor psikologis. Ia menuturkan bahwa kesabaran, kedisiplinan, kehati-hatian, serta dukungan dari lingkungan menjadi faktor penting hingga mencapai hasil akhir yang biasanya memerlukan waktu sekitar enam hingga dua belas bulan.
Untuk tindakan medis tersebut, Rina memilih dokter bedah plastik dr. Teuku Adifitrian, Sp.BP-RE atau yang dikenal sebagai Tompi untuk operasi hidung, serta dr. Puti Adla Runisa, Sp.BP-RE untuk prosedur pengencangan bagian bawah mata di Klinik Beyoutiful Bintaro.
Baca Juga : 7 Titik Lokasi Pasar Ramadan 2026 di Palangka Raya Resmi Dibuka Selama Bulan Puasa
Ia mengaku memilih kedua dokter tersebut setelah melakukan riset dan mempertimbangkan berbagai hal, termasuk pengalaman serta hasil tindakan yang dinilai natural. Selain itu, faktor kedekatan lokasi dengan tempat tinggalnya juga menjadi pertimbangan.
Rina juga meluruskan kesalahpahaman yang sering muncul mengenai istilah “plastik” dalam operasi plastik. Ia menegaskan bahwa tidak ada bahan plastik seperti yang sering dibayangkan masyarakat.
Menurutnya, istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani plastikos yang berarti membentuk atau mencetak.
“FYI, di sini tidak ada unsur atau bahan plastik sama sekali. ‘Plastik’ dalam bedah plastik artinya membentuk atau mengubah bentuk,” pungkasnya.[Red]














Discussion about this post