Ketua Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Kotim, Johny Tangkere, mengakui kondisi tersebut. Meski telah menyiapkan 16 atlet, pihaknya terpaksa menjalankan persiapan secara swadaya.
“Persiapan tetap jalan, atlet latihan sendiri dulu sambil menunggu kepastian dari Dispora dan KONI. Yang penting kita siap ikut,” katanya.
Situasi ini menunjukkan ironi besar dalam pengelolaan olahraga daerah. Di satu sisi, pemerintah mendorong partisipasi dalam ajang bergengsi seperti Porprov. Namun di sisi lain, kebutuhan dasar berupa anggaran justru tak kunjung dipenuhi.
Rapat yang seharusnya menjadi ruang solusi, justru berubah menjadi simbol stagnasi birokrasi. KONI dan Dispora pulang tanpa membawa hasil, sementara cabor pulang dengan beban yang semakin berat.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya prestasi yang terancam. Lebih dari itu, kepercayaan atlet terhadap pemerintah daerah perlahan akan runtuh.
Berdasarkan informasi yang dihimpun kaltengtoday.com, dalam waktu dekat KONI berencana melakukan audiensi langsung dengan Bupati Kotawaringin Timur guna membahas pencairan dana hibah. Artinya, kepastian baru kemungkinan akan muncul setelah pertemuan tersebut, bukan dari rapat yang baru saja digelar hari ini.
Baca Juga : KONI Kalteng Tunggu Penyelesaian Pendaftaran Atlet Hingga 10 April
Jika audiensi nanti kembali tanpa hasil, lalu kepada siapa lagi atlet harus berharap?
Porprov Kalteng XIII dijadwalkan berlangsung Oktober 2026 di Kabupaten Kotawaringin Barat. Waktu terus berjalan. Pertanyaannya, apakah pemerintah daerah masih akan terus membiarkan atlet berjuang sendiri. [Red]














Discussion about this post