Kritik terhadap Law of Attraction
Meski memiliki banyak penggemar, law of attraction juga menuai kritik dari kalangan psikolog dan akademisi.
Salah satu kritik utama adalah konsep ini dianggap bisa memicu toxic positivity, yaitu kondisi ketika seseorang merasa harus selalu positif dan menekan emosi negatif.
Artikel di Psychology Today menyebut law of attraction berpotensi membuat orang menyalahkan diri sendiri ketika gagal mencapai tujuan hidup. (Psychology Today)
Selain itu, sebagian kritikus menilai konsep ini dapat membuat seseorang terlalu pasif karena hanya fokus “meminta kepada semesta” tanpa mengambil tindakan nyata.
Dalam artikel lain di Psychology Today dijelaskan bahwa law of attraction tidak memiliki dasar ilmiah kuat dan sering dikaitkan dengan pola pikir magis (magical thinking). (Psychology Today)
Mengapa Law of Attraction Tetap Populer?
Meski menuai pro dan kontra, law of attraction tetap populer karena memberikan harapan dan rasa optimistis bagi banyak orang.
Di era media sosial, konten tentang manifestasi dan afirmasi juga berkembang sangat cepat karena dianggap relevan dengan isu kesehatan mental, motivasi hidup, dan pengembangan diri.
Baca Juga : Manifestasi dan Afirmasi, Teknik Positif yang Ramai Dibahas di Media Sosial
Sebagian orang merasa praktik seperti meditasi, afirmasi, visualisasi, dan rasa syukur membantu mereka lebih tenang, fokus, dan percaya diri dalam menjalani hidup.
Namun banyak ahli menyarankan agar law of attraction dipandang sebagai alat motivasi dan pengembangan pola pikir positif, bukan sebagai “kekuatan ajaib” yang bisa menggantikan usaha nyata.
Pada akhirnya, keberhasilan seseorang tetap dipengaruhi banyak faktor seperti kerja keras, lingkungan, kesempatan, keterampilan, dan konsistensi dalam mengambil tindakan. [Red]














Discussion about this post