Kaltengtoday.com, Palangka Raya – Sebanyak 24 ribu ekor itik petelur bantuan pemerintah pusat untuk kawasan Food Estate Belanti Siam, Kabupaten Pulang Pisau, raib tanpa kejelasan dan mendapat sorotan dari Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng), Bambang Irawan.
Baca Juga : Fraksi Demokrat Pertanyakan Soal Isu Alih Fungsi Lahan Food Estate Jadi Perkebunan Sawit
“Ini menjadi pertanyaan besar bagi kita, kemana sekarang itik-itik tersebut? Bagaimana pengembangannya?” katanya kepada awak media, Rabu (27/8/2025).
Legislator PDIP dari Dapil V Kalteng yang meliputi Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau ini menyebutkan, pada awalnya kelompok tani penerima bantuan sempat mencatat surplus produksi telur dan meraih keuntungan besar. Namun kini, ia menilai kondisi di lapangan jauh berbeda.
“Kalau sebelumnya surplus, artinya secara logika seharusnya berkelanjutan. Tapi kenyataannya sekarang, puluhan ribu itik itu tidak terlihat lagi,” ungkapnya.
Menurutnya, kegagalan program disebabkan perencanaan yang tidak matang, mulai dari bibit, pengelolaan kandang, hingga ketersediaan pakan. Harga pakan pabrikan yang mencapai Rp475 ribu hingga Rp500 ribu per sak dinilai menjadi beban berat bagi peternak.
“Kalau tidak bisa dibeli dan tidak menghasilkan, ya menurut saya program ini sia-sia,” sebutnya.
Baca Juga : Fraksi Demokrat Pertanyakan Soal Isu Alih Fungsi Lahan Food Estate Jadi Perkebunan Sawit
Sebelumnya, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Pulpis, Ibrahim, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan milik Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Bogor dan bukan tanggung jawab daerah.
Ia membenarkan, pada 2021 Pulpis menerima bantuan 24 ribu ekor itik petelur dari Kementerian Pertanian melalui APBN.
Namun, ironisnya, meski sempat dilaporkan berhasil saat kunjungan Presiden Joko Widodo, keberlanjutan program itu justru tidak terlihat. Kelompok tani yang sempat menikmati hasil besar akhirnya tumbang karena ketergantungan pada pakan dari luar daerah.
Bambang menilai absennya produksi pakan lokal menjadi kelemahan utama. Ia menekankan pentingnya membangun pabrik pakan di Pulang Pisau sebelum meluncurkan program besar.
“Kalau pakan, bibit, dan obat-obatan semua dari luar, kita hanya jadi pasar, bukan pelaku utama,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar program strategis nasional tidak hanya berhenti di atas kertas, mengingat Kalteng diproyeksikan menjadi penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Jangan sampai ini cuma proyek sia-sia. Kami akan menelusuri pola pengadaan, harga pakan, dan apakah potensi lokal benar dimanfaatkan atau justru diabaikan,” tegas Bambang.
Baca Juga : FGD Diadakan Guna Dukung Kebijakan Food Estate
Menurutnya, setiap program pembangunan harus disusun dengan kajian matang dari hulu hingga hilir.
“Kalau dari awal kajiannya sudah salah, lalu diklaim punya potensi padahal kenyataannya tidak mendukung, maka ini bukan membangun daerah, tapi hanya membuang anggaran,” tutupnya. [Red]














Discussion about this post