Kaltengtoday.com, Sampit – Ada satu hal yang sering dilupakan dalam setiap polemik anggaran olahraga atlet tidak hidup dari dokumen, mereka hidup dari latihan, dari keringat, dari harapan bahwa suatu hari mereka bisa berdiri di podium membawa nama daerah.
Namun hari ini, para atlet di Kotawaringin Timur justru harus menghadapi kenyataan yang pahit masa depan mereka di ajang Pekan Olahraga Provinsi Kalimantan Tengah XIII 2026 terombang-ambing oleh tarik-ulur birokrasi.
Bukan karena mereka tidak siap bertanding, bukan pula karena pelatih tidak bekerja, tetapi karena organisasi yang menaungi mereka masih menunggu kepastian anggaran.
Ini bukan sekadar persoalan administrasi, ini adalah potret bagaimana olahraga bisa tersandera oleh trauma masa lalu dan kehati-hatian birokrasi.
Beberapa tahun lalu, publik memang dikejutkan oleh skandal dana hibah di tubuh Komite Olahraga Nasional Indonesia Kotim. Kasus yang kemudian ditangani oleh Kejaksaan Tinggi Kalimantan Tengah itu meninggalkan luka yang dalam. Bukan hanya bagi organisasi olahraga, tetapi juga bagi pemerintah daerah yang harus mempertanggungjawabkan setiap rupiah uang publik.
Baca Juga : Event Olahraga Kalau Bisa Dilakukan Setiap Bulan
Sejak saat itu, kehati-hatian menjadi kata kunci.
√ Semua prosedur diperketat
√ Semua dokumen harus lengkap
√ Semua mekanisme harus sesuai aturan
Tidak ada yang salah dengan itu, masalahnya, olahraga tidak bisa berjalan dengan logika birokrasi yang lambat. Atlet tidak bisa menunda latihan hanya karena proposal belum selesai diinput ke sistem. Seleksi cabang olahraga tidak bisa menunggu sampai seluruh proses administrasi dianggap sempurna, sementara kalender kompetisi terus berjalan.
Pendaftaran cabang olahraga untuk Porprov sudah dibuka sejak Februari. Waktu terus bergerak menuju Agustus. Tetapi sampai hari ini, organisasi olahraga di daerah masih bergulat dengan pertanyaan dasar: apakah mereka benar-benar bisa bergerak?
Di sinilah ironi itu muncul ketika sistem ingin memastikan tidak ada lagi penyimpangan seperti masa lalu, justru sistem itu berpotensi menciptakan masalah baru, yaitu kelumpuhan pembinaan olahraga.














Discussion about this post