Kaltengtoday.com, Palangka Raya – Perempuan adat terus menguatkan peran vital yang sering pula terlupakan, terlebih di masa-masa krisis iklim global yang melanda seluruh dunia saat ini.
Hal ini terungkap dalam Seminar Nasional ‘Perempuan Adat, Krisis Iklim, dan Ketahanan Pangan’ yang dilaksanakan Yayasan Betang Borneo Indonesia (YBBI) bersama Universitas Palangka Raya, Selasa (22/10/2024) lalu.
Peneliti ekofeminisme dari Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR) Dr. Sari Marlina, S.Hut., M.Si, dalam paparannya menyampaikan, perempuan adat adalah garda terdepan dalam menjaga keseimbangan alam dan ketahanan pangan keluarga.
“Namun ironisnya, suara mereka jarang didengar dalam pengambilan kebijakan,” katanya.
Sari turut menuturkan, terkait bagaimana perempuan adat Dayak telah mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Baca Juga : Â Rektor Lantik Dekan Fakultas Kedokteran dan Fakultas MIPA UPR
Praktik-praktik tradisional seperti pergiliran tanaman dan pelestarian benih lokal dirasa sangat terbukti efektif dalam menjaga ketahanan pangan komunitas.
Lebih lanjut, salah seorang penelitian di Desa Simpur dan Desa Pilang, Louise Theresia, S.H., L.LM, turut menguatkan temuan tersebut. Sebab, menurutnya Di dua desa ini, perempuan adat masih memegang pengetahuan vital tentang tanaman obat dan pangan lokal.
“Sayangnya, berbagai tekanan eksternal seperti alih fungsi lahan dan perubahan iklim mengancam keberlanjutan praktik ini,” ucap Louise.
Perempuan adat menurutnya masih merasa tekanan yang semakin kompleks, terlebih dengan adanya kekerasan berbasis gender.
Perwakilan Kemitraan, Communication Officer Kemitraan Yael Stefani Sinaga turut menyampaikan dalam paparannya bahwa temuan mengejutkan tentang tingginya angka kekerasan seksual yang dialami perempuan adat, utamanya dalam konflik sumber daya alam.
Baca Juga :Â Bawaslu Palangka Raya Sosialisasi Pengawasan Pilkada di UPR
“Perempuan adat menghadapi beban ganda. Di satu sisi mereka harus menjaga ketahanan pangan keluarga di tengah krisis iklim, di sisi lain harus menghadapi berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi,” ungkapnya.
Sedangkan, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Pulang Pisau, Beny, S.H., M.AP menyoroti dan menanggapi hal tersebut agar perlunya dukungan konkret dari pemerintah.
“Kami sedang mengembangkan program pemberdayaan yang berfokus pada penguatan kapasitas perempuan adat dalam pengelolaan pangan lokal,” ucapnya.
Untuk diketahui, seminar tersebut dihadiri lebih dari 200 peserta ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga ajang berbagi pengalaman langsung dari perempuan adat, akan tetapi mereka juga turut membagikan kisah perjuangan sehari-hari dalam menjaga tradisi di tengah berbagai badai tantangan modern.
Baca Juga : Â Dosen dan Mahasiswa FEB UPR Dorong Inovasi Produk Keripik Alpukat sebagai Upaya Peningkatan Sektor Wirausaha
“Kami berharap seminar ini bisa menjadi titik awal untuk perubahan kebijakan yang lebih berpihak pada perempuan adat,” tutur Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Palangka Raya, Dr. Natalina Asi, M.A., saat menutup acara.
Selain itu, program ini didukung KEMITRAAN-Partnership dan merupakan bagian dari inisiatif Estungkara yang bertujuan mewujudkan pemerintahan inklusif bagi masyarakat adat, khususnya perempuan.
Melalui Panggung Ekspresi dan pameran yang digelar bersamaan dengan seminar, generasi muda diajak untuk lebih memahami dan mengapresiasi peran vital perempuan adat dalam menjaga keseimbangan alam dan ketahanan pangan komunitas. [Red]














Discussion about this post