Kalteng Today – Palangka Raya, – Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Kota Palangka Raya, tidak semua disambut baik oleh masyarakat secara umum.
Para pedagang yang terpaksa menutup warung makannya dengan alasan mengikuti aturan yang berlaku.
Fitria, salah seorang pengusaha warung makan “Ketupat Kandangan H. Idah” yang diakui milik keluarga besarnya dibilangan pasar besar, Kota Palangka Raya selepas didatangi para petugas gugus tugas kota dan tim gabungan pada hari Selasa (12/5) malam, belum mengetahui secara rinci aturan-aturan yang diberlakukan, sehingga pihaknya memutuskan membuka warung pada malam hari.
“Jujur saja, sampai saat ini kami belum tau kejelasannya. Jadi, kejelasan ini sudah kai ketahui, maka Insyaallah kami bisa menjalankannya,” katanya saat diwawancarai awak media.
Dirinya menjelaskan, disaat bulan puasa seperti ini, yang menjadi kendala sebenarnya warung makan ditempatnya tersebut sering didatangi para pelanggan untuk menjadi tempat Sahur atau meminta untuk dibungkus dan dibawa pulang, dan apabila pihaknya menutup, maka para pelanggan dirasa sulit mendapatkan menu untuk Sahur.
“Kalau kita bukanya siang, otomatis secara Islam kan tidak boleh, berdosa kita. Nah, makanya kami memilih membuka warung ini malam,” tegasnya.
Lebih lanjut, dengan isak tangis dirinya menyampaikan kepada awak media kondisi usahanya saat ini yang dirasa hampir mati total. Mengingat pendapatan yang ada sangat turun jauh dari pendapatan dihari-hari biasanya.
“Saya terus terang saja, kita sebagai rakyat itu berat dan banyak beban. Kami itu mati total dalam usaha, apalagi sayakan punya anak dan anak saya saat ini sedang kuliah, disitu saya jujur sangat menderita,” tuturnya penuh tangis.
Perhatian pemerintah sangat diharapkan pihaknya, terkhususnya para pedagang-pedang atau warung makan, sehingga ada sebuah solusi yang dapat membuat meringankan beban mereka.
Selain itu, dirinya mengaku bahwa omset pihaknya sangat turun secara drastis, dengan pendapatan awalnya antara Rp.7-8 juta sehari, untuk saat ini satu juta pun tidak mampu dicapai, sehingga pihaknya secara terpaksa memberhentikan pegawainya sebanyak 20an orang.
Baca Juga: Tak Bisa Masuk Palangka Raya Akibat Jam Malam PSBB
“Ini karena dibidang pendidikan yang kami rasa saat ini menjadi beban berat sekali. Dan usaha ini sekarang cuman dijalankan kami sekeluarga saja dan sekarang ini dapat Rp. 1 juta saja tidak tercapai,” jelasnya, yang mengaku usaha tersebut milik salah seorang kakaknya itu sudah beroperasi sejak 20 tahun lebih. [Red]














Discussion about this post