Kaltengtoday.com, Sampit – Mantan Wakil Ketua I DPRD Kotawaringin Timur, H. Supriadi, MT, ikut angkat bicara terkait carut-marutnya persoalan anggaran KONI yang hingga kini berdampak langsung terhadap para atlet.
Menurutnya, polemik yang terjadi tidak boleh berujung pada terhambatnya pembinaan olahraga. Ia menegaskan bahwa yang harus dibenahi adalah sistem dan pengelolaan, bukan justru menghentikan dukungan anggaran.
“Pemda tidak boleh takut dalam pengelolaan anggaran, apalagi yang berkaitan dengan prestasi atlet. Selama penggunaan anggaran sesuai aturan dan ketentuan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” tegasnya, Senin (6/4/2026).
Soroti Pola Lama: Kedekatan, Bukan Profesionalisme
Supriadi menilai persoalan yang terjadi hari ini tidak lepas dari pola lama dalam penunjukan pengurus KONI yang kerap didasarkan pada kedekatan, bukan profesionalisme.
“Kepengurusan itu harus profesional, bukan karena kedekatan. Harus dilihat dari pengalaman di organisasi dan dunia olahraga,” ujarnya.
Ia menyebut, kondisi tersebut justru menjadi akar masalah yang berulang, di mana ketika pengelolaan bermasalah, pemerintah daerah kemudian bersikap reaktif dan cenderung menarik diri dari dukungan anggaran.
Anggaran Harus Berbasis Kebutuhan dan Prestasi
Lebih lanjut mantan Ketua DPD Golkar Kotawaringin Timur ini juga, menekankan bahwa penggunaan anggaran KONI seharusnya berbasis kebutuhan nyata cabang olahraga.
Mulai dari program kerja, rencana anggaran biaya (RAB), hingga target prestasi harus menjadi dasar dalam penyusunan anggaran.
Baca Juga : KONI Tanpa Dana : Olahraga Kotim Bertahan dari Uang Swadaya Pribadi, Pemerintah Daerah Kemana?
“Cabor harus punya program jelas, latihan terukur, dan target prestasi. Dari situ anggaran disusun. Jadi jelas arah dan penggunaannya,” katanya.
Ia juga menegaskan pentingnya evaluasi berkala terhadap cabang olahraga, terutama dalam pelaksanaan program latihan hingga keikutsertaan dalam event.














Discussion about this post