Bawa Cerita Baru dengan Nuansa Budaya yang Unik
Sutradara Wregas Bhanuteja, yang sebelumnya dikenal lewat film-film kuat seperti Penyalin Cahaya, mengungkapkan rasa bangganya karena karya ketiganya kembali diapresiasi oleh ajang sebesar Sundance.
Menurutnya, kesempatan ini menjadi bukti bahwa cerita dengan akar budaya lokal tetap bisa diterima dan diapresiasi secara global, bahkan ketika dibungkus dalam narasi dan estetika yang tidak biasa.
Film Para Perasuk mengambil latar di Desa Latas, sebuah desa fiktif dengan tradisi unik yakni pesta kerasukan massal yang dirayakan sebagai festival kegembiraan.
Dalam perayaan tersebut, warga desa menari mengikuti iringan musik dan mantra, membiarkan diri mereka dirasuki roh dengan cara yang dianggap sakral. Para warga yang siap dirasuki disebut “pelamun”, sementara sosok yang menyalurkan roh itu disebut “perasuk”.
Konsep budaya fiktif ini memberi ruang eksplorasi visual sekaligus naratif yang sangat kaya. Elemen mistik, spiritualitas lokal, dan dinamika sosial digabungkan menjadi sebuah cerita yang memikat, jenis cerita yang kerap dicari oleh kurator festival film independen dunia.
Koreografi dan Musik Khusus
Salah satu aspek paling menarik dari Para Perasuk adalah tarian kerasukan yang sepenuhnya dirancang sebagai koreografi fiktif oleh koreografer ternama Mas Siko Setyanto.
Baca Juga : Thread Viral “Waluh Kukus” Diangkat Jadi Film, Begini Kisah Aslinya
Gerakannya terinspirasi dari perilaku dan dinamika tubuh hewan, sehingga menghadirkan gaya tari yang sekaligus liar, organik, dan simbolik. Visualnya diperkirakan akan menjadi scene stealer yang memikat penonton Sundance.
Tidak berhenti di situ, komposisi musik berjudul “Alam Sambetan” karya Mas Yennu Ariendra dibuat khusus untuk film ini. Musik tersebut memadukan unsur tradisional dan atmosferik yang memperkuat tensi serta ritme cerita.
Secara sinematik, perpaduan musik dan koreografi ini diprediksi akan menjadi salah satu elemen estetika yang paling memorable dari film Para Perasuk.
Sundance Film Festival 2026, Momentum Besar untuk Perfilman Indonesia
Dengan jadwal festival yang berlangsung pada 22 Januari hingga 1 Februari 2026, kehadiran film Para Perasuk di Amerika Serikat menjadi tonggak penting bagi sinema Indonesia.
Festival ini tidak hanya menjadi tempat pemutaran perdana, tetapi juga peluang networking, distribusi, hingga peluang masuk pasar global yang lebih luas.
Bagi penonton Indonesia sendiri, kabar ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Kehadiran film lokal di panggung global membuktikan bahwa sineas Indonesia mampu berinovasi dan melakukan storytelling yang resonan bagi audiens internasional. Way to go, Para Perasuk!
Baca Juga : Keren! “Abadi Nan Jaya” Raih Peringkat #1 Global Non-English Film di Netflix
Dengan kualitas produksi yang matang, jajaran cast yang solid, serta dukungan kreativitas dari tim di balik layar, film ini tampaknya siap menjadi perwakilan kuat sinema Indonesia di Sundance Film Festival 2026.
Let’s hope this film brings home not just applause, but also global recognition.[Red]














Discussion about this post