Pahit Manis Perjalanan Seorang Jurnalis

Kalteng TodayPalangka Raya – Di zaman yang sudah serba digital saat ini, bagi sebagian orang, menjadi wartawan itu sangat mudah.

Caranya? Mudah kok!. Tinggal membuat atau ikut di sebuah Website atau Portal Berita Media Online seseorang sudah bisa menyebut dirinya adalah seorang Jurnalis atau wartawan.

Eeeeett…. tunggu dulu, tapi berita atau informasi yang dibuat itu belum tentu memenuhi unsur kaidah Jurnalistik lho sebagaimana yang telah diatur oleh Kode Etik Jurnalistik (KEJ) sesuai Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 dan seterusnya.

Banyak juga orang yang mengaku dirinya adalah wartawan dengan maksud hanya untuk mencari keuntungan pribadi dan menakut-nakuti tanpa pernah menulis atau membuat berita.

Yang lebih parah, ada juga yang tidak bisa sama sekali menulis berita tapi yang penting ada baju seragam dan ID Card.

Ini sering dikenal dengan sebutan wartawan tanpa berita, kalaupun ada dua cuma mengambil berita hasil karya orang lain.

Usai mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diselenggarakan oleh Dewan Pers yang difasilitasi oleh PWI Kalimantan Tengah belum lama ini, penulis baru memahami bagaimana seharusnya menjadi seorang jurnalis atau wartawan yang profesional, bahkan bagaimana seharusnya sebuah media pemberitaan itu.

Penulis baru mengetahui bahwa ada aturan yang harus dipatuhi sesuai Undang-Undang yang telah ditentukan agar sebuah informasi yang diterima oleh masyarakat memiliki nilai dan kredibelitas sesuai kaidah dan Kode Etik Jurnalistik serta tidak melanggar aturan dan norma.

Penulis sendiri mengakui, awalnya tidak memiliki latar belakang seorang penulis, jurnalis atau wartawan.

Bahkan awalnya saat mencoba jadi seorang pembuat berita, belum paham sama sekali bagaimana seharusnya memulai menulis berita dan parahnya dulu pernah mendapat protes oleh seseorang.

Tidak sampai disitu, awal-awal menjadi seorang jurnalis pada Tahun 2018 lalu, di suatu daerah juga pernah dicuekin oleh rekan wartawan senior dan sering ketinggalan informasi.

Mungkin karena baru dikenal atau mungkin juga dianggap tidak bisa menulis berita, sampai akhirnya menyerah, padahal waktu itu ikut di media online yang tidak ada gajihnya.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya Kota Palangka Raya menjadi pelabuhan untuk bersandar kembali belajar jadi penulis berita.

Meski sempat ikut media yang tidak ada gajihnya, dan akhirnya pindah ke media lain namun sialnya ternyata di media tersebut juga tidak ada gajihnya.

DOK. Pribadi

Pernah waktu lebaran tidak bisa membeli apa-apa buat keluarga, malahan kita yang disuruh mencari gajih sendiri. Lucu kan ? Itulah kilas balik sejarah penulis.

Saat ini tentu suasananya sudah sangat jauh berbeda, dengan bekerja di Media yang sudah terverifikasi oleh Dewan Pers, memiliki legalitas yang lengkap, mulai dari Kantor dengan fasilitas cukup dan lain sebagainya. Ditambah usai mengikuti Uji Kompetensi Wartawan belum lama ini.

Kebetulan penulis adalah orang yang sehari-hari berjibaku di lapangan, mulai pagi, siang, malam, baik hujan dan panas tentunya bukan masalah karena sudah biasa dan yang terpenting informasi yang didapat pasti A1 donk….!!!

Meski penulis belum sempurna dalam membuat dan mengolah karya berita jurnalistik karena ada kesalahan mendasar tapi Alhamdulillah yang baca banyak, karena selain aktif menulis juga aktif membagikan berita tersebut agar di baca oleh masyarakat luas, dan tentunya sangat memperhatikan Kode Etik Jurnalistik dalam penulisan berita.

Cuma terkadang yang menjadi kendala bagi penulis adalah Typo saat mengetik berita, hal ini sulit dihilangkan. Mungkin pengaruh gadged murah kali ya.

Selain itu, penulis adalah seorang yang memiliki tingkat emosi tinggi, mungkin karena terlalu fokus mencari, mengolah dan mengirim berita hingga sedikit waktu untuk keluarga di rumah.

Jadi apabila ada hasil liputan tidak tayang, kepala rasanya mau mendidih, apalagi ketika kita adalah orang pertama yang mendapat sebuah informasi kemudian kita bikin berita nya dan kita kirim, tiba-tiba berita dari media yang lain duluan tayang, bisa dibayangkan bagai mana rasanya. Tentu setiap wartawan yang profesional pernah merasakannya.

Baca Juga : Ternyata Menjadi Jurnalis Itu Menyenangkan Guys!

Kebayang nggak, betapa capeknya mebuat berita, semua energi terkuras hanya untuk berita yang tidak berguna dan tidak ditayangkan.

Tapi itu hal biasa di sebuah media yang benar-benar kredibel, Ada Kantornya, ada redaksinya, ada wartawannya, semuanya jelas dan ada gajihnya. bukan Abal-abal ya.

Tapi bagi Wartawan yang abal-abal, mungkin berita apa saja masuk terus di medianya, tanpa disaring dan melewati keredaksian yang ketat. Bahkan beritanya copas tidak di edit lagi. Hebat kan ? Tentu hebat dong. [Red]

Baca Juga

Add New Playlist