Kaltengtoday. com, Tamiang Layang – Meskipun bulan Maret-April ini sudah masuk dalam fase terakhir musim buah, namun para pedagang di pasar-pasar Kabupaten Barito Timur, masih mampu memenuhi permintaan pasar.
Baca Juga :Â Durian Merah Banyuwangi Resmi Berstatus Indikasi Geografis, Makin Diakui Dunia
“Yang jelas tidak bisa lagi kita sediakan ya durian, kelengkeng dan rambutan. Kalau langsat, duku, cempedak dan buah-buah khas Bartim seperti untit dan pitanak, masih bisalah kita upayakan. Hanya saja, harganya sudah mahal, ” tutur Atun, salah seorang pedagang buah dan sayur di pasar subuh Ampah Kota, Kecamatan Dusun Tengah, tadi (Senin, 6/4/2026).
Menurutnya, kenaikan harga itu disebabkan beberapa faktor. Pertama , jelas karena stoknya sudah tidak sebanyak dulu dan sekarang mulai langka. Dan kedua, dipicu oleh kenaikan harga beberapa harga barang terkait. Seperti BBM jenis Pertalite di kios eceran (meskipun kenaikannya tidak seberapa. Berkisar Rp1. 000).
“Bahkan untuk permintaan luar kabupaten seperti Barito Selatan dan Kapuas, kami masih bisa memenuhi. Cuma, ya tidak bisa dituntut sebanyak dulu. Karena barangnya juga sudah mulai menipis stoknya, ” imbuh Arul, salah seorang pedagang buah yang biasa mengantar ke wilayah Kecamatan Timpah, Kabupaten Kapuas.
Baca Juga :Â Serbuan Buah Durian di Bartim Diprediksi Bakal Berakhir
Varian buah di Bartim sendiri memang dikenal cukup banyak. Beberapa jenis seperti pitanak, untit, mata kucing dan lain-lain, yang termasuk buah hutan bercita rasa manis-manis asam, tidak banyak ditemui di daerah lain. Secara kebetulan, harga dan minat di pasaran, khususnya lokal pun cukup menggembirakan.
Gairah kewirausahaan ini juga mengangkat sektor pemberdayaan masyarakat. Bahkan yang tidak punya kebun buah pun, bisa ikut menikmati hasil dengan cara bersepakat dengan pemilik kebun, untuk mencarikan pembeli. Sebuah geliat yang sejenak mampu melupakan kelesuan ekonomi dewasa ini.  [Red]














Discussion about this post