Kaltengtoday.com, Kuala Pembuang – Mesin perkebunan kelapa sawit bisa terus berputar, truk bisa terus keluar-masuk, dan aktivitas perkebunan tetap berjalan. Namun, ada satu hal yang hingga kini rupanya belum menemukan jalan keluar realisasi tuntuntan kebun plasma 20 persen dari warga 4 Desa di Kabupaten Seruyan.
Sabtu (5/9/2026), ribuan warga dari Desa Bangkal, Hanau, Rungau Raya dan Selunuk, Kabupaten Seruyan, memadati kawasan depan PT Binasawit Abadi Pratama (BAP). Di bawah terik matahari, mereka datang membawa tuntutan yang sebenarnya sederhana, tetapi hingga kini belum memperoleh kepastian yaitu kapan kebun plasma 20 persen benar-benar direalisasikan ?
Pertanyaan itu bukan muncul kemarin sore, Pada 3 September lalu, masyarakat telah duduk bersama pemerintah daerah dan manajemen perusahaan. Meja tersedia, kursi tersedia, pembicaraan pun sudah dilakukan halaman kantor Bupati
Kabupaten Seruyan, Ahmad Selanorwanda, namun kesepakatan belum juga tumbuh, yang justru tumbuh adalah agenda pertemuan berikutnya.
Pada 5 September, warga kembali datang dalam jumlah besar, bukan membawa batu dan bukan pula mencari keributan. mereka datang membawa tuntutan yang sama sejak awal 20 persen plasma.
Sebelumnya, masyarakat telah menyatakan akan menghentikan sementara aktivitas operasional PT BAP apabila tuntutan mereka tidak mendapatkan penyelesaian. Sejumlah akses operasional perusahaan bahkan telah masuk dalam rencana aksi.
Namun pada Sabtu itu, warga memilih menahan diri. Mereka mendengarkan permintaan aparat, bersedia menunggu, bahkan menandatangani surat pernyataan untuk tidak melakukan aksi lanjutan sebelum pertemuan 9 September berlangsung.
Sebuah kesempatan kembali diberikan dan kesempatan itu sebenarnya sederhana, datang, duduk, bicara, lalu putuskan, bukan datang, duduk, bicara, lalu pulang membawa jadwal pertemuan berikutnya. Sebab masyarakat bukan sedang mengoleksi undangan rapat atau mengumpulkan notulen mereka sedang menunggu sesuatu yang jauh lebih konkret kebun plasma.
Baca Juga : Dulu Tolak PT BAP karena Plasma 20 Persen, Kini Pemkab Seruyan Bicara KUP
Kegelisahan itu juga bukan baru muncul dalam aksi kali ini,, dari pemberitaan sebelumnya, perwakilan Desa Terawan, Iwan, mengungkap panjangnya penantian masyarakat terhadap plasma.
“Kami sudah dijanjikan plasma dan merintis ke mana-mana… namun sampai sekarang plasma itu tidak terbentuk. Bendahara kami bahkan sudah meninggal dunia,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa bagi sebagian masyarakat, persoalan plasma bukan sekadar agenda yang baru muncul pada September 2026. Penantian itu disebut telah berlangsung panjang, bahkan melewati pergantian waktu, pemerintahan dan berbagai forum pembicaraan.
Dengan kata lain, persoalannya bukan lagi sekadar kapan rapat berikutnya digelar, melainkan kapan hasil dari berbagai pembicaraan itu benar-benar terlihat dalam bentuk yang diminta masyarakat.













Discussion about this post