Membela Mereka yang Kerap Tak Didengar
Pada 10 Februari 2025, Sapriyadi mendirikan Kantor Hukum Sapriyadi, S.H. dan Rekan.
Visinya sederhana : membantu masyarakat adat, mendampingi masyarakat kecil, dan memberikan pemahaman hukum kepada mereka yang selama ini sulit mengakses bantuan hukum.
Baca Juga : Teras Narang Soroti Tata Ruang dan Dugaan Kriminalisasi dalam Konflik Lahan Sebabi
Pilihan fokus pada isu masyarakat adat bukan keputusan yang dibuat karena tren.
Ia mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat terhadap persoalan tersebut karena pernah merasakan sendiri bagaimana konflik lahan dapat mengubah kehidupan sebuah keluarga.
“Saya anak orang Dayak. Saya sangat merasakan yang namanya kehilangan mata pencaharian untuk keberlanjutan anak cucu nantinya,” katanya.
Dalam pandangannya, konflik agraria di Kalimantan Tengah sering kali muncul karena hak-hak masyarakat tidak pernah diselesaikan secara tuntas.
Banyak masyarakat adat yang hidup berdasarkan hukum adat dan penguasaan turun-temurun atas tanah, tetapi tidak memiliki dokumen formal yang diakui negara.
Ketika investasi masuk, posisi mereka menjadi rentan.
Karena itu, menurutnya, negara tidak boleh hanya hadir ketika konflik sudah masuk ke ruang sidang.
“Pemerintah harus hadir di tengah-tengah masyarakat saat terjadi konflik agraria dan mengedepankan penyelesaian secara musyawarah mufakat dengan itikad baik,” ujarnya.
Berjuang Melawan Ketidakadilan
Hingga hari ini, Sapriyadi mengaku belum pernah menerima penghargaan formal atas pekerjaannya.
Namun baginya, penghargaan terbesar justru datang dari masyarakat yang merasa terbantu dan memperoleh keadilan.
Ketika ditanya bagaimana ia menggambarkan perjalanan hidupnya dalam satu kalimat, jawabannya singkat namun mencerminkan arah perjuangannya selama ini.
Baca Juga : Achmad Rasyid Tanggapi Konflik Lahan di Rubung Buyung
“Berjuang untuk melawan ketidakadilan.”
Ia sadar dirinya bukan berasal dari keluarga besar yang memiliki kekuatan politik maupun jabatan penting. Namun justru dari keterbatasan itulah ia belajar bahwa perubahan tidak selalu lahir dari mereka yang memiliki kekuasaan.
“Perubahan tidak datang dari orang apatis. Perubahan datang dari orang kritis dan peduli,” katanya.
Dan jika suatu hari namanya dikenang, Sapriyadi tidak berharap dikenang sebagai tokoh besar. Ia hanya ingin diingat sebagai anak desa yang memilih berdiri bersama masyarakat adat ketika mereka membutuhkan pembelaan. [Red]














Discussion about this post