Ia mengenang masa kecilnya sebagai kehidupan yang sederhana, tetapi penuh nilai-nilai yang terus melekat hingga sekarang. Orang tuanya selalu mengajarkan pentingnya menghormati sesama, membantu orang yang kesusahan, dan tidak memandang rendah siapa pun.
“Selalu membantu masyarakat kecil dan jangan menunjukkan kesombongan kepada orang lain,” begitu pesan yang terus diingatnya.
Di Bangkal, ia tumbuh di tengah masyarakat yang majemuk dan hidup berdampingan dengan alam. Hutan, kebun, sungai, dan ladang bukan sekadar bentang geografis, melainkan bagian dari identitas masyarakat yang telah diwariskan turun-temurun.
Namun ketika investasi perkebunan mulai masuk, sebagian masyarakat mulai menghadapi persoalan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Konflik yang Mengubah Arah Hidup
Saat masih duduk di bangku SMA, Sapriyadi mulai memahami mengapa orang tuanya sering berbicara tentang tanah, hak, dan ketidakadilan.
Ia melihat sendiri bagaimana tanah yang selama ini menjadi tempat berladang dipersoalkan karena masuk dalam klaim perusahaan perkebunan.
Pengalaman itu perlahan membentuk cita-cita yang tidak biasa bagi seorang anak desa.
“Saya termotivasi dari keserakahan investor perusahaan kelapa sawit kepada orang tua saya yang merampas tanahnya untuk berladang dengan alasan karena HGU perusahaan. Jadi suatu saat saya akan memperjuangkan hak-hak milik orang tua saya,” katanya.
Sejak saat itu, hukum bukan lagi sekadar mata pelajaran atau profesi yang menjanjikan masa depan. Hukum menjadi alat yang ingin ia gunakan untuk mencari keadilan.
Pada tahun 2012, ketika masih duduk di kelas dua SMA, ketertarikannya terhadap dunia hukum mulai tumbuh. Setahun kemudian ia memutuskan melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Palangka Raya.














Discussion about this post