Kaltengtoday.com, Sampit – Di sebuah desa bernama Bangkal, Kabupaten Seruyan, seorang anak petani pernah menyaksikan sesuatu yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya. Tanah yang selama ini menjadi sumber kehidupan keluarganya perlahan berubah menjadi ruang konflik. Orang-orang yang sebelumnya hidup dari kebun dan ladang mulai berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari diri mereka.
Anak itu bernama Sapriyadi.
Bertahun-tahun kemudian, pengalaman masa kecil itu mengantarkannya menjadi seorang advokat. Bukan advokat yang lahir dari keluarga pejabat, bukan pula dari lingkungan elite hukum. Ia tumbuh dari keluarga petani sederhana yang setiap hari menggantungkan hidup pada tanah dan hasil kebun.
“Saya sudah pernah melihat dan merasakan kesedihan itu. Karena korbannya adalah orang tua saya sendiri,” ujar Sapriyadi saat ditemui di Sampit, Jumat (5/6/2026).
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan alasan mengapa hingga hari ini ia memilih berdiri di barisan masyarakat adat yang berjuang mempertahankan tanah dan ruang hidup mereka.
Anak Desa yang Tumbuh dengan Nilai Kesederhanaan
Sapriyadi lahir dan besar di Desa Bangkal. Ayah dan ibunya bekerja sebagai petani dan pekebun.














Discussion about this post