Dampak Positif Budaya Latte Dad
Fenomena ini bukan sekadar tren lucu-lucuan, tapi punya dampak positif nyata. Misalnya:
Anak bisa menjalin bonding lebih kuat dengan kedua orang tua.
Baca Juga : 10 Negara Terdamai di Dunia 2025 Menurut Global Peace Index
Ibu punya kesempatan lebih luas untuk balik kerja atau lanjutin karier.
Peran ayah sebagai pengasuh utama makin diterima masyarakat.
Stereotip gender dalam parenting pelan-pelan mulai luntur.
Dengan kata lain, jadi ayah bukan cuma soal jadi pencari nafkah, tapi juga hadir secara emosional buat anak.
Bisa Diterapkan di Negara Lain?
Sayangnya, konsep ini gak gampang di-copy-paste ke semua negara. Banyak tempat yang belum kasih cuti panjang untuk ayah, belum lagi stigma sosial yang masih nempel “Laki-laki kok ngurus anak?”
Baca Juga : Google Doodle Hari Ini Hadirkan ‘Godfather of Broken Heart’, Didi Kempot
Tapi, tren Latte Dad vibes mulai menyebar ke berbagai belahan dunia. Banyak komunitas ayah modern yang saling sharing pengalaman, tips parenting, sampai cara manage waktu dan finansial biar bisa lebih dekat dengan anak.
Kalau di Indonesia mungkin bisa tipis-tipis diterapkan ketika long weekend atau cuti panjang tahunan. Supaya bisa ikut tren Latte Dad, ayah modern yang redefine arti kehadiran buat keluarganya.[Red]














Discussion about this post