Kaltengtoday.com,Lifestyle – Belakangan, istilah “Latte Dad” atau dalam bahasa Swedia disebut latte pappa lagi rame banget diomongin di media sosial.
Fenomena ini menggambarkan sosok ayah modern yang terlihat santai menikmati secangkir latte di cafe atau nongkrong di taman, tapi… sambil ngasuh anak.
istilah ini nggak muncul begitu saja, ada latar belakang budaya yang bikin Latte Dad jadi ikonik di Swedia. Jadi apa itu Latte Dad?
Melansir dari Today, istilah ini muncul di Swedia, negara yang sudah lama dikenal punya sistem family-friendly policy. Sejak tahun 1974, pemerintah mereka mengganti sistem cuti melahirkan tradisional jadi parental leave berbayar yang bisa dibagi antara ibu dan ayah.
Baca Juga : Sejarah Baru, Nadeen Ayoub Jadi Wakil Palestina Pertama di Miss Universe 2025
Menurut Swedish Institute, setiap orang tua di Swedia dapet jatah 480 hari cuti berbayar setelah anak lahir atau diadopsi. Fleksibel banget, bisa dibagi sesuai kesepakatan keluarga.
Bayarannya juga gak main-main, sampai 80% gaji yang ditanggung lembaga jaminan sosial negara. Bahkan, kalau orang tua tunggal, full 480 hari itu bisa dipakai sendiri. Sebagian hari cuti juga bisa dialihkan ke kakek, nenek, atau kerabat dekat.
Hasilnya? Pemandangan bapak-bapak nongkrong di taman, naik transportasi umum, sampai duduk di kafe bareng stroller jadi hal biasa di sana.
Dari situlah istilah Latte Dad mulai populer, merujuk pada figur ayah modern yang bukan cuma hadir, tapi juga aktif dan modis dalam keseharian anaknya.














Discussion about this post