Kaltengtoday.com, Lifestyle – Menjadi dewasa muda di tahun 2026 ini rasanya kayak tantangan tersendiri, ya? Istilah “in this economy” bukan lagi sekadar bumbu sarkasme di media sosial, tapi sebuah realitas yang harus dihadapi setiap hari. Mulai dari harga tiket konser yang mahal, biaya sewa tempat tinggal yang makin tidak masuk akal, hingga harga kopi susu literan yang pelan-pelan ikut menguras kantong.
Kondisi finansial rasanya makin bikin pusing setelah mendengar kabar nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga dolar AS menyentuh angka Rp18.000. Lonjakan ini tentu berdampak langsung pada meroketnya harga barang-barang impor, biaya langganan aplikasi bulanan, hingga memicu inflasi di berbagai sektor pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Di tengah situasi di mana semua serba mahal dan menantang ini, Gen Z dipaksa untuk memutar otak dalam mengelola keuangan mereka.
Baca Juga : Mengenal “Bed Rotting”, Gaya Healing Kekinian ala Gen Z
Menariknya, situasi ekonomi makro ini melahirkan dua tren gaya hidup finansial yang saling bertolak belakang namun sama-sama populer, yaitu doom spending dan loud budgeting.
Sebagai generasi yang adaptif, kedua fenomena ini menunjukkan bagaimana anak muda merespons tekanan finansial dengan cara mereka sendiri. Yuk, kita bedah kedua tren ini dari sudut pandang financial expert!
Doom Spending: Pelarian Finansial Saat Masa Depan Terasa Blur
Pernahkah kamu merasa stres karena memikirkan harga rumah yang makin tidak terjangkau, lalu entah bagaimana tahu-tahu kamu sudah menekan tombol “check out” untuk barang-barang mewah atau liburan impulsif? Jika iya, selamat, kamu baru saja melakukan doom spending.
Doom spending adalah perilaku belanja impulsif yang dilakukan seseorang untuk menghibur diri demi mendapatkan kebahagiaan instan (instant gratification), dipicu oleh rasa pesimis terhadap masa depan finansial yang tampak buram.
Rasionalisasinya cukup sederhana bagi Gen Z: “Kalau menabung bertahun-tahun pun tetap belum tentu bisa membeli rumah, untuk apa aku menahan diri tidak membeli barang-barang yang bisa membuatku bahagia sekarang?”
Baca Juga : Gaya Hidup Sehat Gen Z yang Bisa Dicoba di 2026, Bukan Cuma Ikut Tren Sesaat
Meskipun perilaku ini sangat bisa dipahami sebagai mekanisme pertahanan mental (coping mechanism) terhadap stres ekonomi, kita harus jujur bahwa doom spending adalah jebakan batman. Alih-alih menyelesaikan masalah, kebiasaan ini justru bisa memperburuk kondisi keuangan jangka panjang dan menjauhkanmu dari jaring pengaman finansial yang krusial, seperti dana darurat.














Discussion about this post