Tanah merah berganti dengan jalan berpasir, bekas roda kendaraan berat terlihat membelah permukaan jalan. Di beberapa titik, kendaraan harus bergerak perlahan agar tidak terjebak dalam cekungan tanah yang tidak rata.
Di kiri dan kanan, hamparan sawit berdiri rapat seperti dinding hijau yang menutupi pandangan ke arah dalam, perjalanan menuju lokasi sengketa ternyata bukan sekadar perjalanan geografis.
Ia adalah perjalanan memasuki ruang konflik yang selama ini hanya dikenal publik melalui potongan-potongan informasi.
Memasuki kawasan yang diklaim warga, setelah melewati sejumlah ruas jalan perkebunan dan jalur tanah yang semakin sempit, rombongan akhirnya tiba di lokasi yang ditunjukkan warga.
Di tengah kawasan perkebunan itulah berdiri sebuah pondok sederhana, bangunannya jauh dari kesan permanen. Terbuat dari kayu dan material seadanya, beratapkan terpal besar yang membentang sebagai pelindung dari panas dan hujan.
Bagi orang luar, pondok itu mungkin terlihat biasa, namun bagi Musi dan kawan-kawannya, pondok tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar mereka menyebutnya sebagai pondok perjuangan.
Sebuah simbol keberadaan mereka di lokasi yang selama ini mereka yakini sebagai bagian dari tanah yang mereka klaim. di sekitar pondok, sejumlah warga telah berkumpul menunggu kedatangan awak media.
Baca Juga :Â Pengamat: Konflik Sebabi yang Berujung Gugatan dan Pidana Cerminkan Kegagalan Mediasi Pemerintah
Sebagian berdiri di halaman depan. Sebagian lagi duduk di sekitar pondok sambil berbincang. Wajah-wajah yang tampak di sana memperlihatkan kesan yang sama mereka ingin didengar, bukan oleh perusahaan, bukan pula oleh pemerintah, tetapi oleh publik.
Titik yang Mereka Sebut Sebagai Bukti
Tidak jauh dari pondok, warga kemudian mengajak awak media memasuki area yang menurut mereka memiliki arti penting dalam sengketa ini.
Di sana terdapat sebuah patok beton tua yang masih berdiri. Patok itu menjadi salah satu titik yang diperlihatkan kepada awak media selama peninjauan lapangan.
Warga secara bergantian menjelaskan arti keberadaan patok tersebut menurut versi mereka. Beberapa orang menunjuk langsung ke arah patok sambil menerangkan batas-batas yang mereka pahami selama ini.
Diskusi berlangsung di bawah rindangnya pohon dan naungan kebun sawit. Suasana sesekali menjadi serius ketika pembicaraan menyentuh sejarah penguasaan lahan, batas wilayah, dan proses yang menurut mereka menjadi awal munculnya konflik.
Pada tahap ini, awak media memilih mencatat seluruh keterangan yang disampaikan tanpa mengambil kesimpulan. Sebab setiap klaim yang muncul masih memerlukan verifikasi lanjutan, baik melalui dokumen maupun keterangan dari pihak lain.
Di Balik Konflik yang Belum Selesai
Kunjungan lapangan ini memberikan satu gambaran yang tidak bisa diperoleh hanya dari membaca dokumen, bahwa di balik sengketa yang selama ini tercatat dalam surat-menyurat dan proses hukum, terdapat manusia-manusia yang masih bertahan di lapangan.
Ada warga yang memilih tetap berada di lokasi, ada pondok yang terus dipertahankan, ada keyakinan yang belum berubah meskipun konflik telah berlangsung bertahun-tahun.














Discussion about this post