Kaltengtoday.com, Sampit – Langit di atas Sampit masih menyisakan warna abu ketika perjalanan itu dimulai. Di atas meja redaksi, nama Desa Pantap telah berulang kali muncul dalam berbagai dokumen, surat, gugatan, hingga laporan konflik yang selama bertahun-tahun mempertemukan masyarakat dengan perusahaan perkebunan sawit PT Tapian Nadenggan, anak usaha Sinarmas Group.
Namun konflik agraria tidak pernah benar-benar bisa dipahami hanya dari lembaran dokumen. Ada cerita yang tidak tercatat dalam berkas. Ada suara yang tidak terdengar dari ruang sidang. Ada jejak yang hanya bisa ditemukan dengan datang langsung ke lokasi.
Karena itulah awak media memutuskan turun ke lapangan, tujuannya sederhana menemui Musi dan sejumlah warga yang selama ini mengklaim sebagian lahan yang kini berada dalam kawasan perkebunan perusahaan. Kami ingin melihat sendiri lokasi yang dipersoalkan, mendengar langsung cerita para pihak, dan memahami bagaimana konflik itu hidup di tengah masyarakat.
Dari Sampit menuju Bangkal, Perjalanan dimulai dari Kota Sampit, Sabtu 6 Juni 2026 menuju wilayah kecamatan telawang kemudian terus bergerak ke arah selatan menuju Desa Bangkal.
Baca Juga :Â Mengenal Sapriyadi : Dari Luka Konflik Lahan Menjadi Pembela Masyarakat Adat Dayak
Jarak di atas peta mungkin terlihat biasa tetapi semakin jauh meninggalkan pusat kota, jalan mulai berubah. Aspal perlahan berganti dengan ruas-ruas yang tidak lagi sempurna. Di beberapa titik, debu merah beterbangan ketika kendaraan melintas. Di titik lain, bekas genangan hujan membentuk lubang-lubang yang memaksa pengemudi memperlambat laju kendaraan.
Perjalanan panjang itu seperti pengingat bahwa sengketa agraria di pedalaman tidak pernah sesederhana membaca koordinat di atas kertas.
Di Bangkal, malam menjadi titik persinggahan pertama, setelah berjam-jam perjalanan awak media memutuskan bermalam untuk memulihkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya pada minggu 7 Juni 2026, menuju lokasi yang disebut warga sebagai pusat sengketa.
Malam di Bangkal terasa tenang, namun di balik ketenangan itu, esok hari kami akan memasuki wilayah yang selama bertahun-tahun menjadi ruang tarik-menarik antara klaim masyarakat dan legalitas perusahaan.
Menyusuri Jalur Sebabi Menuju Pantap, Pagi berikutnya, perjalanan dilanjutkan. Dari Bangkal, kendaraan bergerak menuju Desa Sebabi sebelum akhirnya mengarah ke Pantap.
Sepanjang perjalanan, pemandangan berubah menjadi hamparan perkebunan sawit yang seolah tidak berujung. Jalan tanah membelah kebun, membentuk koridor panjang yang hanya sesekali diwarnai rumah-rumah warga atau pondok sederhana di tepi jalan.
Awan tebal menggantung rendah di atas langit. Beberapa ruas jalan tampak cukup baik untuk dilalui kendaraan roda empat. Namun semakin mendekati lokasi yang ditunjukkan warga, kondisi jalan berubah drastis.














Discussion about this post