Menurutnya, literasi sejatinya tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca teks, melainkan juga mencakup kecakapan dalam menafsirkan makna, mengevaluasi isi bacaan secara kritis, serta memberikan tanggapan yang konstruktif.
“Kami berharap melalui kegiatan ini, nanti budaya literasi tidak hanya sekedar membaca tetapi juga memaknai apa yang dibaca, kemudian juga bisa memberikan masukkan, kritikan, dan lain sebagainya terhadap apa yang mereka baca itu,” jelasnya.
Dan, melalui lomba ini, pihaknya menekankan, para peserta memahami bagaimana isi tarian-tariannya, lalu memberikan inovasi pengayaan, menulis terkait dengan budaya.
Ia menegaskan, salah satu output utama dari kegiatan ini adalah terbitnya buku yang berisi deskripsi dan informasi budaya hasil karya peserta, yang akan menjadi koleksi Perpustakaan Kalteng.
Sehingga, pihaknya menilai, keberadaan buku tersebut merupakan bentuk pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat informasi yang dapat diakses oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda, agar budaya seni tari Kalteng dapat lebih dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Baca Juga : Dispursip Kalteng Dorong Kesiapan dan Keamanan Arsip Keluarga
“Harapannya melalui kegiatan ini nanti akan ada output, yaitu buku yang menjadi koleksi Perpustakaan Provinsi Kalimantan Tengah. Itu merupakan salah satu pemanfaatan sebagai pusat informasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, sehingga budaya seni tari Kalteng bisa diketahui oleh generasi muda,” tuturnya.
Ketua Panitia Pelaksana kegiatan ini adalah Rody yang menjabat sebagai Kepala Bidang Deposit, Pengolahan Bahan Pustaka, dan Preservasi. Lomba ini dinilai oleh 5 orang dewan juri yang memiliki latar belakang di bidang seni dan budaya, yaitu Kumpiady Widen, Wildae D. Binti, Yuseftu Leluno, Kambang, dan Yerson. [Red]














Discussion about this post