Padahal dalam konflik agraria, kebenaran seringkali bukan ditentukan oleh siapa yang paling keras berbicara, melainkan siapa yang berani membuka seluruh fakta.
Baca Juga : Terungkap! SPK Hanya Berlaku Sepekan, Agrinas Pusat Tetapkan Moratorium Seluruh KSO di Kotim
Masalah lain yang tidak kalah serius adalah kaburnya batas kewenangan.
DPRD seharusnya menjadi lembaga pengawasan, bukan lembaga eksekusi. Namun dalam dinamika polemik ini, garis batas itu kerap terlihat kabur. Rekomendasi politik seolah diposisikan seperti keputusan administratif yang bisa menentukan nasib sebuah kerja sama.
Padahal, dalam tata kelola pemerintahan yang sehat, setiap lembaga memiliki perannya masing-masing.Ketika batas itu dilompati, yang muncul bukan solusi, melainkan kebingungan baru. Dan kebingungan itu kini menjalar ke tengah masyarakat.
Jika ada satu pelajaran besar dari polemik KSO Agrinas, pelajaran itu sederhana: konflik agraria tidak pernah benar-benar selesai ketika ia diperlakukan sebagai permainan intrik dan politik.
Tanah bukan sekadar komoditas Ia adalah ruang hidup, sejarah, dan masa depan masyarakat. Ketika tanah dijadikan alat tawar dalam pertarungan kekuasaan, yang lahir bukanlah pembangunan, melainkan luka sosial yang panjang.
Hari ini KSO Agrinas mungkin terlihat seperti sekadar polemik kerja sama yang bermasalah.
Namun bagi masyarakat yang berada di tengah pusaran konflik ini, persoalannya jauh lebih besar: mereka sedang menyaksikan bagaimana tanah mereka diperdebatkan oleh orang-orang yang bahkan tidak menanam satu batang pun di sana.
Baca Juga : DPRD Kotim Bongkar Skema KSO Agrinas: Koperasi Lokal Tersingkir, Dugaan Panen Sepihak di Lahan Sitaan Muncul
Pada akhirnya, sejarah selalu mencatat hal yang sama dalam konflik seperti ini. Para elite bisa berganti, Jabatan bisa berakhir, dan Pernyataan bisa berubah.
Namun tanah yang rusak dan kepercayaan masyarakat yang hancur seringkali membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dipulihkan.
KSO Agrinas kini berdiri di persimpangan: antara menjadi pelajaran besar bagi tata kelola agraria, atau sekadar menjadi satu lagi kisah tentang bagaimana kekuasaan bermain di atas penderitaan petani.
Dan jika sejarah kembali berulang, kita sudah tahu siapa yang akan kembali menjadi korban pertama. Petani seperti biasa. [Red]














Discussion about this post