Kaltengtoday.com, Sampit – Ada satu ironi yang selalu berulang dalam sejarah konflik agraria di negeri ini: ketika tanah diperebutkan oleh para elite, yang paling dahulu jatuh justru para petani. Mereka tidak ikut merancang skema, tidak duduk dalam ruang rapat, tidak menandatangani perjanjian. Tetapi ketika bangunan itu runtuh, merekalah yang tertimbun di bawah puingnya.
Begitulah kira-kira nasib yang kini membayangi polemik KSO Agrinas di Kabupaten Kotawaringin Timur Provinsi Kalimantan Tengah.
Baca Juga :Â Lagi-Lagi Fakta Baru Diungkap Ormas Mandau Talawang, Agrinas Pusat Sebut Tidak Ada Kontribusi 10%
Apa yang semula dikemas sebagai kerja sama operasional untuk menghidupkan lahan, kini berubah menjadi panggung konflik yang mempertontonkan satu hal: betapa rapuhnya fondasi sebuah kebijakan ketika dibangun lebih banyak oleh ambisi daripada kepastian hukum.
KSO itu sejak awal tampak seperti rumah yang dibangun di atas pasir. Berdiri megah di permukaan, tetapi rapuh di bawahnya.
Di satu sisi, nama perusahaan besar dipasang sebagai payung legitimasi. Di sisi lain, masyarakat dijadikan alasan moral untuk membenarkan langkah tersebut. Namun ketika dokumen dari pusat justru menyebut kerja sama itu tidak pernah sah dan bahkan telah dicabut, seluruh konstruksi cerita yang selama ini dipertahankan mulai retak. Retakan itu kini berubah menjadi jurang.
Pertanyaannya sederhana tetapi menyakitkan: jika sejak awal kerja sama itu tidak pernah benar-benar memiliki landasan yang kuat, lalu siapa yang selama ini bermain di baliknya?
Dan lebih penting lagi: siapa yang akan menanggung akibatnya? Petani dan akan selalu petani.
Dalam polemik ini, yang terjadi bukan sekadar persoalan administrasi kerja sama. Ini sudah berubah menjadi duel narasi antara elite lokal. Pernyataan saling bantah, tudingan terbuka, bahkan tantangan sumpah adat ikut dilontarkan ke ruang publik.
Politik lokal tiba-tiba berubah bak arena Sabung Ayam: para petarung saling mengukur keberanian, sementara penonton disuguhi pertunjukan yang semakin panas.
Namun di balik sorak-sorai itu, ada ribuan hektare lahan yang nasibnya menggantung.
Ada para petani yang tidak tahu apakah mereka sedang bekerja di atas tanah yang sah, atau di atas konflik yang sewaktu-waktu bisa meledak.
Ironisnya, sebagian elite justru sibuk memperebutkan siapa yang paling benar dalam cerita ini, bukan siapa yang paling bertanggung jawab.














Discussion about this post