Kaltengtoday.com, Sampit – Pengakuan mengejutkan datang dari Ketua KONI Kotawaringin Timur, sejak dilantik pada 14 Agustus 2025 lalu hingga hari ini, tidak ada satu rupiah pun dana dari pemerintah daerah yang mengalir ke rekening KONI.
Pernyataan ini bukan sekadar keluhan administratif. Ini adalah alarm keras tentang lumpuhnya dukungan negara terhadap dunia olahraga di daerah.
“Sejak saya dilantik sampai hari ini, kami belum menerima satu rupiah pun dana dari pemerintah daerah. Semua kegiatan KONI dan cabang olahraga berjalan murni dari inisiatif dan kemampuan pribadi masing-masing,” ungkap Alexius, saat audiensi dengan sejumlah organisasi kepemudaan, mahasiswa—dalam hal ini OKP, BEM, dan KPPM—belum lama ini.
Alexius melanjutkan, di balik latihan yang terus berjalan, di balik atlet yang masih berkeringat di lapangan, ada fakta pahit yang selama ini tersembunyi: seluruh aktivitas KONI dan berbagai cabang olahraga saat ini bertahan dari kantong pribadi.
Baca Juga : Atlet Mulai Tinggalkan Daerah, OKP Datangi KONI Kotim Desak Kepastian Porprov
“Saya terbuka saja dengan teman-teman mahasiswa dan pemuda, mulai dari biaya latihan, transportasi, hingga kebutuhan rapat, semuanya ditanggung sendiri. Ini tentu sangat berat, tapi kami tidak ingin atlet berhenti hanya karena tidak ada anggaran,” lanjutnya.
Padahal, jika merujuk pada amanat , tanggung jawab terhadap pembinaan dan pendanaan olahraga bukanlah pilihan, melainkan suatu keharusan—bahkan kewajiban yang melekat pada pemerintah daerah. Negara, melalui regulasi tersebut, secara tegas menempatkan olahraga sebagai bagian dari pembangunan manusia yang harus didukung secara sistematis, terencana, dan berkelanjutan.
Artinya, ketika hari ini KONI dan cabang olahraga dipaksa bertahan dengan dana pribadi, maka yang terjadi bukan sekadar kendala teknis anggaran—melainkan indikasi kuat adanya pengabaian terhadap amanat undang-undang itu sendiri.














Discussion about this post