Kaltengtoday.com, Sampit – Ada satu benang merah yang kini kian terang dalam polemik KONI Kotawaringin Timur semua pihak tahu ada yang salah, tetapi belum ada yang benar-benar bertanggung jawab.
Mahasiswa telah bersuara, Pejabat angkat bicara, Ketua KONI bahkan membuka kondisi paling telanjang olahraga daerah berjalan tanpa dana. Namun di tengah semua itu, satu hal tidak berubah—atlet tetap berlatih dalam ketidakpastian.
Tekanan datang dari kalangan mahasiswa. Badan Eksekutif Mahasiswa STIE Sampit secara terbuka mendesak pertanggungjawaban, bahkan meminta pencopotan pejabat yang dianggap bertanggung jawab.
Nada mereka tegas ini bukan lagi sekadar kesalahan teknis, melainkan kegagalan tata kelola. Dan publik paham, tuntutan itu bukan tanpa alasan fakta di lapangan terlalu gamblang untuk dibantah.
Ketua KONI Kotawaringin Timur sendiri mengungkap realitas yang sulit diterima akal sehat selama dua tahun terakhir, tidak ada satu rupiah pun anggaran yang benar-benar bisa digunakan.
Olahraga daerah, yang seharusnya menjadi wajah prestasi, justru bertahan dari swadaya pribadi. Ini bukan sekadar ironi, melainkan alarm keras bahwa sistem sedang tidak bekerja.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga mengakui keikutsertaan Porprov masih menggantung keputusan ada di pekan depan. Artinya, hingga hari ini, bahkan pemerintah belum memiliki kepastian. Padahal waktu tidak pernah menunggu. Porprov bukan agenda yang bisa ditunda hanya karena birokrasi belum selesai dengan persoalannya.
Baca Juga : Pemda Jangan Takut Kelola Anggaran Hibah KONI, Atlet Jangan Jadi Korban
Jika dirangkai, persoalan ini tidak lagi berdiri sendiri, Pernyataan mahasiswa mencerminkan tekanan publik Pengakuan KONI menunjukkan kondisi riil. Sikap pemerintah memperlihatkan kebuntuan dalam pengambilan keputusan. Ini bukan lagi sekadar polemik anggaran ini adalah krisis tata kelola.
Yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya kesalahan yang terjadi, melainkan cara menyikapinya. Alih-alih bertindak cepat dan tegas, yang terlihat justru kehati-hatian berlebihan bahkan cenderung menjadi ketakutan.














Discussion about this post