“Jangan berpikir soal 100 miliarnya. Pikirkan 100 kali dampaknya. Kami tidak ingin harkat dan martabat orang Dayak Kalimantan Tengah diinjak-injak,” tegasnya.
Pernyataan itu terasa seperti lebih dari sekadar respons atas nilai gugatan. Sebab dalam konflik agraria, angka sering kali tidak dibaca hanya sebagai nominal. Ia juga dapat dipahami sebagai pesan psikologis, sebagai tekanan, atau bahkan simbol tentang besarnya kekuatan yang sedang berhadapan.
Baca Juga : Basa-basi di Meja Buka Puasa, Jawaban Konflik Lahan Sebabi Masih Hilang
Namun Serinus menutup sikapnya dengan satu nada yang berbeda: bukan ancaman, melainkan peringatan agar semua pihak menahan diri.
“Saya menegaskan, jangan sampai ada tindakan yang merusak kondusifitas di Kotawaringin Timur. Jangan sampai ada gerakan massa karena hal ini. Kami tidak menginginkan itu terjadi.”
Di Sebabi, tanah kini tampaknya telah melampaui batas petak dan koordinat. Ia telah berubah menjadi ruang pertemuan banyak hal hukum, adat, politik, ingatan, dan harga diri masyarakat. Dan ketika tokoh adat mulai digugat, suara adat tampaknya mulai menjawab dengan caranya sendiri. [Red]














Discussion about this post