Kaltengtoday.com, Tamiang Layang – Tak hanya kesenian daerah asli, berupa tari-tarian Dayak Mantan, Lawangan, Bakumpai atau Taboyan/Tewoyan, dan lainnya yang ada di Kabupaten Barito Timur. Karena berbagai warga pendatang dari beragam daerah, juga kerap membawakan kesenian asal daerah mereka.
Baca Juga : Â Dewan Barsel Mengapresiasi Tarian dari Barsel Juara di Eropa
Tentunya, jika disikapi secara obyektif, dengan tetap menjunjung tinggi kesenian/ kebudayaan asli lokal, ini menjadi khasanah seni yang memperkaya Bartim.
“Kalau mau ditelaah dengan seksama, banyak grup Madihin Banjar, Kuda Lumping Jawa, Tortor Batak, Jaipong Sunda dan lain-lainnya, di Bartim. Artinya Bartim itu kaya dengan aset kesenian. Kami orang Dayak Bakumpai pun mempunyai dua tari. Yang Dayak-nya dengan kostum khas, dan yang pesisir dengan busana agak ke-Melayu-melayu-an. Jadi, banyak warna di sini,” papar Udin Fahrian, pegiat tari tradisional yang mengasuh Sanggar Betang Mandala Wisata (BMW) Tamiang Layang.
Perbincangan yang terjadinya beberapa waktu yang lalu, tentang tari itu menghasilkan catatan, bahwa seharusnya keberadaan sanggar-sanggar seni daerah itu juga didata. Dan pemerintah daerah menggandeng mereka, sebagai sebuah kesatuan dari warna-warni yang mempercantik negeri.
Baca Juga : Â Joni Harta : Standar dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Miliki Peran Penting Dalam Pelestarian Lingkungan
“Kami punya mimpi, kapan Pemkab Bartim lewat instansi terkait bisa mengakomodir juga sanggar-sanggar seni tradisional dari berbagai etnis yang ada di Bartim, untuk sama-sama tampil dalam satu panggung. Supaya publik tahu, selain punya identitas lewat tari tradisional Dayak-nya, juga ada beragam tari jenis lainnya. Bahwa kita bisa bergandengan tangan bersama, merekatkan perbedaan dalam satu momen kesenian besar,” ucap Arbun K, warga Tamiang Layang yang merupakan pecinta dan penggelut seni musik. [Red]














Discussion about this post