Kaltengtoday.com, Tamiang Layang – Sebagai langkah dini penanganan konflik sosial berdimensi keagamaan Islam, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Timur (Kemenag Bartim) menggandeng sejunlah penyuluh agama, ormas keagamaan Islam dan beberapa pihak lain dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD).
Pada kegiatan yang diselenggarakan di Aula Pelayanan Haji dan Umrah Terpadu (PLHUT) Kemenag Bartim tadi (Kamis, 24/7/2025), Kepala Kemenag Bartim H Ahmadi SAg MAP yang diwakili Kepala Sub Bagian Tata Usaha (Kasubag TU) H Maslan SAg MPd, menyatakan FGD ini diikuti oleh berbagai unsur penting di wilayah Barito Timur, di seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) Barito Timur, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Pengurus Daerah Muhammadiyah Barito Timur, PD Aisyiyah, PC Muslimat NU Barito Timur, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kabupaten Barito Timur, Penyuluh Agama Islam baik PNS maupun PPPK, serta perwakilan media massa.
Baca Juga : KPU Gelar FGD evaluasi meningkatkan kinerja penyelenggaraan Pemilu
“Kami berharap melalui diskusi ini, kita bisa memperkuat deteksi dini dan penanganan konflik sosial yang berdimensi keagamaan (Islam) agar tetap tercipta keharmonisan di Barito Timur,” kata H Maslan.
Sementara, Kepala Seksi Pembinaan Masyarakat (Kasi Binmas) Islam Kemenag Bartim Ahmad Janawi, ketika dibincangi awak media, memaparkan bahwa dari sesi diskusi dan kegiatan ini, nantinya akan dirumuskan bagaimana penanganan jika terjadi konflik-konflik tersebut.
Baca Juga : Hadiri FGD Badko HMI Kalteng, Wagub: Indonesia Emas 2045 Ini Bukan Angan-angan
“Dan dari masukan pada FGD ini, kita menerima informasi adanya dua kasus yang terjadi di dua kecamatan, di mana ada indikasi ajaran yang diduga menyimpang dari fatwa MUI. Ini akan kita tindaklanjuti, dengan penanganan yang mengedepankan komunikasi dan persuasi. Baru nanti setelah terbukti memang menyimpang, kira lakukan pembinaan, sebab kita tidak punya wewenang penanganan secara hukum, ” urai pria yang aktif dlam berbagai organisasi keagaamaan Islam itu.
Dan diskusi serra sesi tanya jawab berjalan interaktif, dengan para peserta aktif membahas berbagai isu dan tantangan yang tengah dihadapi di lapangan. Sejumlah kasus yang berpotensi menimbulkan gesekan sosial mendapat perhatian serius dari peserta FGD, guna mencari solusi terbaik secara bersama-sama. [Red]














Discussion about this post