Netizen: Antara Salut dan Bingung
Seperti biasa, dunia maya punya opini yang campur aduk. Ada yang menganggap ini sweet dan menginspirasi, tapi ada juga yang bilang, “Kok bisa-bisanya nenek disewain kayak barang?”
Tapi bagi banyak orang Jepang sendiri, ini justru solusi win-win. Di satu sisi, pelanggan bisa dapet kehangatan dan kebijaksanaan dari sosok nenek yang mungkin tidak mereka miliki di rumah. Di sisi lain, nenek-nenek ini bisa tetap aktif dan dihargai atas pengalaman hidup mereka.
Salah satu pengguna jasa bahkan bilang, “Saya belajar bikin onigiri dari nenek ini, tapi yang paling berkesan justru cerita hidupnya yang bikin saya rethink tentang keluarga dan kebahagiaan.”
Jadi, Ini Eksploitasi atau Empowerment?
Apakah ini bentuk eksploitasi terhadap lansia yang seharusnya menikmati masa tua? Atau justru bentuk pemberdayaan?
Menurut tim di balik OK Obaachan, semua nenek yang bergabung melakukannya atas kemauan sendiri dan dengan semangat yang tinggi. Mereka melewati proses seleksi, training, dan bahkan punya komunitas sendiri untuk saling support.
Baca Juga : Miris, Penjual Keliling Warga Bartim,Tergolek Tak Berdaya, Berharap Ada Bantuan
Salah satu nenek berusia 78 tahun bilang, “Saya nggak mau duduk diam di rumah. Dengan ini, saya bisa terus belajar, ketemu orang baru, dan merasa dihargai.”
Dari layanan ini, kita bisa belajar satu hal penting, menjadi tua bukan berarti selesai. Justru bisa jadi fase baru yang penuh makna, asal ada kesempatan dan ruang untuk berkembang.
Di tengah dunia yang serba cepat dan sering kali individualis, kehadiran seorang nenek bisa jadi penyeimbang yang kita butuhkan baik untuk urusan dapur, maupun urusan hati.
Jadi, siapa tahu suatu hari nanti kamu butuh pelajaran masak dari nenek Jepang… atau sekadar pelukan yang penuh kehangatan. [Red]














Discussion about this post