Atlet di Tengah Tarik Ulur Birokrasi
Di balik semua polemik ini, ada satu kelompok yang paling jarang diajak bicara: yakni para Atlet
Mereka berlatih setiap hari dengan harapan sederhana—membela nama daerah. Mereka tidak terlibat dalam penyusunan RKA, tidak memahami mekanisme SIPD, dan tidak ikut dalam rapat anggaran.
Namun ketika dana belum bisa dicairkan, mereka adalah pihak pertama yang merasakan dampaknya.
Tanpa anggaran, tidak ada seleksi.
Tanpa seleksi, tidak ada tim.
Tanpa tim, mimpi para atlet untuk bertanding di Porprov bisa saja hilang begitu saja.
Lebih tragis lagi, mereka harus menanggung akibat dari kesalahan yang tidak pernah mereka buat.
Saatnya Memberi Ruang untuk Memperbaiki
Justru dalam situasi seperti inilah seluruh pihak perlu menempatkan persoalan secara proporsional.
Kasus korupsi masa lalu memang harus dituntaskan. Penegakan hukum tidak boleh berhenti. Namun di saat yang sama, organisasi olahraga yang sedang berusaha bangkit juga harus diberikan ruang untuk bekerja.
Jika setiap langkah organisasi selalu dibayangi kecurigaan tanpa solusi, maka yang terjadi bukanlah perbaikan sistem, melainkan kelumpuhan institusi.
Padahal, KONI adalah tulang punggung pembinaan olahraga daerah. Jika organisasi ini tidak dapat bergerak, maka ekosistem olahraga di daerah juga akan ikut terhenti.














Discussion about this post