Kaltengtoday.com, Tamiang Layang – Membandingkan sekolah di perkotaan dengan di pelosok pedesaan, jelas adalah kenaifan. Sebab, realitasnya seperti langit dan bumi. Meski di satu sisi, tetap berpegang pada idealisme pengabdian dan kesetiaan pada negara.
Beribu cerita nyata perjuangan para murid dan guru untuk sampai ke sekolah, jelas bukan dongeng biasa atau sekadar materi konten di media sosial. Sebab sebagian guru di Kabupaten Barito Timur pun merasakan hal ini. Di mana untuk sampai di sekolah tempat mereka mengajar, memerlukan perjuangan berat. Bergelut dengan lumpur seperti di areal persawahan, tetap harus ditempuh karena ini satu-satunya jalan.
Sahrian, salah satu guru berstatus PNS di Kecamatan Dusun Tengah, juga menceritakan bagaimana sulitnya medan yang harus ditaklukkan setiap kali ia turun ke sekolah. Menuju Desa Muara Awang, sungguh penuh perjuangan. Sebab jika hujan turun, jalannya becek dan berlumpur.
Baca Juga : Pastikan Pembangunan Berjalan Lancar, Komisi IV DPRD Kalteng Tinjau Ruas Jalan Sampit-Samuda
Meski dirinya tak pernah mengeluh dan memandang bahwa ini adalah bagian dari pengabdian, tapi kondisi yang dialaminya, membuat banyak pihak merasa prihatin. Mereka berharap adanya perhatian, sebab infrastruktur yang buruk, juga berpengaruh bagi akses pendidikan.
“Mungkin para guru yang PNS tidak masalah karena punya tunjangan. Tapi bagaimana dengan guru honorer yang bayarannya minim? Sementara misi mereka sama, yaitu memajukan dunia pendidikan dan memintarkan anak-anak bangsa. Semoga pemerintah, dari mulai pusat, provinsi hingga daerah, segera memperbaiki kondisi jalan desa. Baik di Muara Awang, Dusun Jatus, ataupun ttik-titik pelosok lainnya,” ungkap M Wahyu, salah seorang warga Kecamatan Dusun Tengah, tadi (Jumat, 27/2/2026). [Red]














Discussion about this post