Kaltengtoday.com, Tamiang Layang – Industri pengolahan rotan di Kecamatan Pematang Karau, masih eksis dan menjadi tumpuan harapan para pekerjanya. Meski tak berstatus sebagai karyawan full timer, nampun dari bekerja di pengolahan rotan sebagai pekerja part timer alias paruh waktu, mereka bisa mendapat upah hingga Rp500 ribu per minggu.
Baca Juga : Distribusi MBG di Bantaran Sungai Jadi Sorotan Pemkot Palangka Raya
“Ya itu kalau rajin kerjanya. Kalau sering mangkir, tentunya pendapatan mereka berkurang. Biasanya mereka libur kalau hari Jumat dan jika ada acara-acara seperti pernikahan atau haul-an. Dan mereka ini, juga tidak full seharian kerjanya. Kalau ada yang petani karet, ya sehabis menyadap mereka turun. Yang petani sawah, setelah menggarap sawahnya, mereka bekerja di sini,” papar Kepala Desa Ketab Aliansyah melalui Sekretaris Desa Ketab Nawawi, ketika menemui Kaltengtoday.com di kantor desa tadi (Senin, 29/9/2025).
Itupun, menurut Nawawi, jika stok rotannya tersedia. Kalau stok sedang kosong, maka mereka tidak bekerja. Namun kekosongan stok bisa dibilang sangat jarang terjadi. Rotasi produksi dalam industri rotan menghasilkan kontinuitas yang juga mempengaruhi pendapatan warga yang bekerja di sini.
“Soal pembeli, selalu tidak pernah sepi. Bahkan rotan kita di sini, juga diekspor ke Pulau Jawa bahkan mancanegara seperti Korea. Tentu saja setelah ditampung di gudang besar Banjarmasin dulu,” imbuh lelaki asal Tapin, Kalimantan Selatan yang pernah mengabdi sebagai honorer di Pemerintah Kabupaten Banjar tersebut.
Baca Juga : Anyaman Rotan Jadi Simbol Diplomasi Budaya Barito Utara di Hadapan Wamendagri
Dan saat melewati unit-unit pengolahan rotan di pinggiran jalan, memang terpancar kegigihan sebuah industri lokal yang bertahan melawan gempuran zaman. Meski ada teknologi sintetis yang mampu meniru komoditas asli seperti rotan, tetap saja kualitas barang asli tak mampu ditandingi.
Oleh karena itulah, meski bahan jadi furniture berbahan rotan lebih murah daripada yang sintetis, namun tetap yang asli banyak dicari. Dalam hal ini, seperti yang dikutip dari berbagai laman, Indonesia masih jadi primadona penghasil furniture rotan di kancah internasional, dengan pangsa terbesar Amerika Serikat dan Spanyol [Red]














Discussion about this post