Kaltengtoday.com, Palangka Raya – Anggota DPD RI, Agustin Teras Narang menegaskan bahwa masyarakat Dayak yang sudah memiliki peradaban sejak awal.
“Makin bersatu setelah momen pertemuan damai Tumbang Anoi 1894 dan perlu berkolaborasi, bergotong royong sesuai semangat huma betang di dalam wadah dan gerakan yang sama untuk kemajuan masyarakat Dayak seluruhnya,” katanya kepada awak media, Selasa (26/8/2026).
Mantan Gubernur Kalteng ini juga telah memberikan catatan penting dalam Seminar International Day of The World’s Indigenous People 2025, Pumpung Hai Borneo, Jumat (22/8/2025) lalu, di Palangka Raya.
Baca Juga : Huma Betang Center, Inovasi Digital Kalteng untuk Pelayanan Publik Terintegrasi
“Dalam momen itu banyak peserta dan tokoh Dayak dari lintas negara, bertemu memperingati momen hari masyarakat adat internasional dan melakukan refleksi bersama tentang identitas Dayak,” ungkapnya.
“Saya secara pribadi, mengambil refleksi tentang masyarakat dan orang Dayak yang telah beradab sejak lama,” imbuhnya.
Ia menerangkan, dari era nusantara, hingga hari ini dan ditandai dengan warisan kearifan lokalnya, yang mesti telah mengalami ancaman tergerus oleh zaman, namun masih hidup di berbagai tempat.
“Misal saja semangat musyawarah mufakat hingga sistem pertahanan dari bencana, predator, hingga ancaman musuh, yang tercermin dari arsitektur humabetang,” terangnya.
Pihaknya juga menyoroti praktek menanam berpindah hingga manugal di Bumi Tambun Bungai, sebagai teknik pertanian di lahan gambut dengan teknik membakar, yang dikelola secara gotong royong dan memanfaatkan saluran air untuk menangkal kebakaran.
“Saya menekankan, bahwa hari ini banyak perusahaan dituntut untuk memakai prinsip Environmental (Lingkungan), Social (Sosial), dan Governance (Tata Kelola),” jelasnya
Lebih lanjut, Perserikatan Bangsa-Bangsa diungkapkannya, telah mendorong Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals yang menekankan pentingnya keberlanjutan. Pentingnya keseimbangan kepentingan ekonomi dan ekologi.
“Semua ini, yang menjadi tren hari ini di seluruh dunia akibat kesadaran akan perubahan iklim, telah dilakukan oleh masyarakat Dayak sejak dulu kala. Jauh sebelum modernisasi menjadi ukuran kemajuan sebuah peradaban,” sebutnya.
Jadi, ia mengaku bangga untuk menegaskan bahwa sejak dulu hingga kini, serta masa yang akan datang, masyarakat Dayak telah beradab. Telah menghidupi nilai-nilai, yang oleh masyarakat modern dipandang sebagai nilai penting dalam kehidupan hari ini.
“Maka rasa bangga itu mesti diterjemahkan bersama sebagai langkah kolaborasi menghadapi tantangan zaman. Seluruh masyarakat Dayak, di seluruh Indonesia dan dunia, mesti bersatu membangun gerakan global,” tuturnya lagi.
Baca Juga : Polemik Gereja di Kotim, Pemuda Katolik Serukan Peneguhan Nilai Huma Betang
Selain itu, meningkatkan mutu sumber daya manusia lewat pengawalan serta menghasilkan kebijakan publik yang pro pada bidang kesehatan dan pendidikan yang bermutu. Sebab hanya dengan keunggulan sumber daya manusia, sebuah peradaban dan masyarakat atau bangsa, bisa bertahan melintasi zaman.
“Bangkitlah masyarakat Dayak di seluruh dunia. Bangkit dalam semangat kolaborasi, semangat gotong royong, semangat huma betang, agar kita mampu menjadi masyarakat maju dan individu yang unggul di mana pun negara kita berada. Bangkit dan majukan peradaban Dayak yang terus berkontribusi bagi kemajuan Indonesia dan dunia,” tutupnya. [Red]














Discussion about this post