Kaltengtoday.com, Tamiang Layang – Penjualan produk jamu tradisional di Kabupaten Barito Timur sepertinya menjadi sesuatu yang awet diminati konsumen. Apalagi secara keamanan, indikasi adanya campuran kimia ataupun zat berbahaya pada jamu, di Bartim sendiri, hingga saat adalah zero case alias nihil.
Tak hanya produk jamu racikan Jawa, jamu olahan lokal pun mendapat tempat di bursa pasar. Salah satunya adalah Jamu Pisit Mangapit (PM) yang diproduksi di Tamiang Layang.
Baca Juga :Â Berburu Jamur ‘Kulat’, Untuk Penghasilan Tambahan Warga
Produk jamu ini boleh dibilang naik daun, karena bisa ditemui di mana-mana dan orang dengan mudah menyebut namanya. Barangkali, faktor nama inilah yang jadi unique selling pointnya.
“Konotasinya memang sedikit ‘nyrempet-nyrempet’. Tapi justru di situlah letak keunggulan brand-nya, bisa diterima pasar dengan cepat. Rasa jamunya juga cocok dengan selera orang sini,” komentar Pretty, salah seorang warga Tamiang Layang, tadi (Jumat, 24/10/2025).
Beberapa kios jamu sedih, juga masih bertahan di Bartim, sejak dulu dan masih ramai pelanggan. Seperti kata seorang penjual jamu di Tamiang Layang asal Surabaya, Jawa Timur, dalam sehari setidaknya ada 10-15 orang yang minum jamu di tempat.
“Belum yang beli bungkusan, atau sekadar beli madu sachet. Ya jangan dibandingkan dengan warung nasi atau bakso lah. Untuk kios dengan pembeli bersegmen khusus, sudah lumayan ini,” tuturnya seraya tertawa.
Baca Juga :Â Dorong Kemudahan Pelaku UMKM, Pemkab Bartim Perkuat Ekosistem Usaha Inklusif
Penjaja jamu keliling pun masih banyak ditemui. Paling banyak ada di Tamiang Layang dan Ampah. Biasanya, mereka menjajakan dagangannya dengan menggunakan sepeda motor atau sepeda kayuh.
Tentunya, karena kemajuan dan tuntutan zaman, mereka ini tak lagi berjalan kaki, seperti jaman dulu. Jadi, jangan berharap ada lagi mbak-mbak jamu yang menggendong bakulnya, dan berkebaya seksi, meneriakkan dagangan dari rumah ke rumah. [Red]














Discussion about this post