Kaltengtoday.com, Entertainment – Rencana produksi film horor berjudul Tanah Dayak belakangan menjadi perbincangan hangat di media sosial. Film ini disebut-sebut mengambil latar peristiwa Sampit, yang dikenal dalam sejarah sebagai lokasi terjadinya Tragedi Sampit 2001.
Wacana tersebut memunculkan berbagai reaksi dari publik mulai dari dukungan hingga kekhawatiran bahwa kisah lama yang sensitif bisa kembali terbuka.
Sebagai informasi, Tragedi Sampit pada Februari 2001 merupakan konflik sosial yang menelan banyak korban jiwa serta memicu gelombang pengungsian besar.
Peristiwa kelam di Kalimantan Tengah tersebut memang masih menyisakan trauma mendalam bagi para korban dan keluarga.
Baca Juga :Â Angkat Budaya Lokal Banjar, Film Kuyank Saranjana Raup Sukses Besar di Kaltengsel dan Nasional. Kita Kapan?
Maka tak heran, ketika wacana film ini muncul, netizen menunjukkan berbagai reaksi dan ragam komentar. Banyak yang khawatir film ini akan membuka luka lama yang sudah mulai mengering.
Di tengah perdebatan ini, banyak juga netizen yang mencoba memahami apakah film tersebut akan menjadi bentuk refleksi sejarah atau sekadar konten horor yang kontroversial.
Mengangkat Latar Sejarah yang Sensitif
Salah satu fakta yang paling banyak dibicarakan adalah latar cerita film yang berkaitan dengan peristiwa nyata di masa lalu. Banyak pihak menilai pendekatan genre horor terhadap tragedi sejarah perlu dilakukan dengan sangat hati-hati.
Sebagian masyarakat khawatir bahwa penggambaran dalam film bisa menimbulkan salah tafsir terhadap konteks sejarah dan budaya yang kompleks. Namun di sisi lain, ada juga pandangan yang menyebut bahwa film dapat menjadi space for reflection jika digarap dengan perspektif yang empatik dan bertanggung jawab.
Pengamat sosial menilai penting bagi sineas untuk menonjolkan nilai kemanusiaan, rekonsiliasi, serta menghormati memori kolektif masyarakat yang terdampak.
Sutradara Tegaskan Fokus pada Unsur Spiritual
Menanggapi gelombang pro dan kontra tersebut, sang sutradara, Tarmizi Abka, memberikan klarifikasi yang cukup menenangkan. Ia menegaskan bahwa “Tanah Dayak” tidak akan mengeksploitasi kekerasan atau konflik berdarah yang terjadi 25 tahun silam.
Baca Juga :Â Angkat Budaya Lokal Banjar, Film Kuyank Saranjana Raup Sukses Besar di Kaltengsel dan Nasional. Kita Kapan?
“Orang tahunya Tragedi Sampit itu soal pembunuhan dan kekerasan. Tapi kita tidak ke situ. Kita fokus ke horor mistis di balik peristiwa itu,” ungkap Tarmizi.
Menurutnya, ada banyak kisah spiritual dan kearifan lokal yang justru jarang diketahui publik. Ia menegaskan bahwa cerita dalam film lebih menyoroti sisi mistis yang berkaitan dengan adat, etika ketika memasuki wilayah orang lain, serta nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Dayak.
Dengan kata lain, tragedi tersebut hanya menjadi latar cerita, bukan inti konflik dalam film.
Pendekatan ini diharapkan dapat menghadirkan sudut pandang baru yang lebih humanis tentang Kalimantan dan budaya Dayak.














Discussion about this post