Sumber internal PAN Kotim yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, tekanan dari DPW dan DPP PAN sudah mulai terasa. Apalagi dengan viralnya pernyataan Taufik yang berencana membawa kasus ini ke ranah hukum dan adat.
Sumber itu juga menyebutkan bahwa partai tengah mempertimbangkan opsi serius jika Hairis tetap menunjukkan sikap defensif atau menolak mengakui kesalahan, termasuk kemungkinan penonaktifan dari fraksi hingga rekomendasi PAW (Pergantian Antar Waktu).
Transparansi atau Reputasi?
Isu utama yang kini membelit PAN Kotim adalah soal konsistensi menjaga integritas. Jika partai terlalu lunak, maka akan dianggap melindungi kader bermasalah. Namun, jika terlalu cepat menjatuhkan sanksi tanpa proses klarifikasi yang utuh, bisa menciptakan preseden buruk di internal partai.
Dalam wawancara lanjutan, Rudini menekankan bahwa sikap partai akan berdasarkan fakta objektif, bukan asumsi publik semata.
Baca Juga : Ketua DPD PAN Kotim Angkat Bicara Terkait Insiden Pecahnya Kaca Meja Kantor Dinas Koperasi
“Kami berharap persoalan ini bisa selesai dengan damai. Tapi jika terbukti ada pelanggaran serius, maka partai tidak akan ragu bersikap. Kita tidak boleh mengorbankan kredibilitas partai hanya karena satu orang,” tutup Rudini.
Sinyal Evaluasi Total?
Kasus ini menjadi cermin evaluasi menyeluruh terhadap kader PAN di tingkat daerah. Jika partai gagal mengelola isu ini secara transparan dan adil, bukan tidak mungkin kepercayaan publik akan tergerus—terutama menjelang Pemilu Legislatif (Pileg) selanjutnya.
Polemik Hairis Salamad bukan hanya soal kaca pecah. Ini adalah uji etika politik—antara pengakuan, tanggung jawab, dan integritas. [Red]














Discussion about this post