Di sisi lain, humas pemerintah daerah perlu memastikan bahwa informasi mengenai kebijakan, penanganan bencana, dan pelayanan masyarakat disampaikan secara akurat serta mudah dipahami.
Pendekatan tersebut menjadi penting ketika pemerintah menghadapi krisis. Masyarakat tidak hanya membutuhkan informasi tentang apa yang sedang dilakukan pemerintah, tetapi juga kepastian mengenai langkah penanganan, perkembangan situasi, dan bantuan yang dapat diakses.
Prinsip komunikasi krisis dalam panduan Crisis and Emergency Risk Communication (CERC) dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menekankan enam prinsip utama: menjadi yang pertama, akurat, kredibel, menunjukkan empati, mendorong tindakan, dan menunjukkan rasa hormat.
Dalam konteks karhutla, prinsip tersebut menempatkan empati dan kejelasan informasi sebagai unsur penting. Ketika warga menghadapi ancaman asap, gangguan kesehatan, atau kehilangan mata pencaharian, cara pemerintah menyampaikan pesan turut menentukan bagaimana respons dan kebijakannya diterima masyarakat.
Kepercayaan Publik Menjadi Taruhan Periode Pertama
Gumarang menilai, persoalan komunikasi juga berkaitan dengan keberlanjutan kepemimpinan Agustiar Sabran. Menurutnya, pelaksanaan program dan visi-misi pemerintahan membutuhkan dukungan masyarakat yang dibangun melalui kinerja serta komunikasi yang baik.
“Semua itu tidak terlepas dari kinerja pada periode pertama dalam menjalankan pemerintahan, yang dirasakan dan dinilai masyarakat,” katanya.
Baca Juga : Pengurus PERGATSI Kalteng Resmi Dilantik, Agustiar Sabran Tekankan Pembinaan Atlet
Agustiar Sabran dan Edy Pratowo memenangkan Pilkada Kalimantan Tengah 2024 dengan perolehan 37,27 persen suara, berdasarkan angka rekapitulasi yang disebut dalam naskah sumber. Kemenangan tersebut diperoleh dalam kontestasi yang ketat, dengan selisih sekitar 1,2 poin persentase dari pasangan pesaing terdekat.
Dalam situasi tersebut, menjaga kepercayaan publik menjadi bagian penting dari pelaksanaan mandat pemerintahan. Keberhasilan program tidak hanya bergantung pada perencanaan dan pelaksanaan kebijakan, tetapi juga pada kemampuan pemerintah menjelaskan capaian, mengakui kendala, dan merespons kritik secara terbuka.
Agustiar sendiri pernah menyatakan terbuka terhadap kritik yang membangun. Pada Agustus 2025, ia menyebut kritik sebagai bagian yang dapat membantu perbaikan. Pernyataan serupa kembali disampaikannya pada awal September 2026 di hadapan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia Kalimantan Tengah.














Discussion about this post