Berdasarkan data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalimantan Tengah per 7 Oktober 2026 sebagaimana tercantum dalam naskah sumber, tercatat 5.848 insiden dengan luas lahan terbakar mencapai lebih dari 17 ribu hektare.
Baca Juga : Agustiar Sabran Hadirkan Kanal Aduan Digital untuk Percepat Pelayanan Publik
Dampak asap juga mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit. Dalam naskah sumber disebutkan, penerbangan mengalami penghentian selama sekitar dua pekan akibat jarak pandang pada sore hari yang turun hingga di bawah 100 meter.
Padahal, dalam pidato resmi pada upacara Hari Jadi ke-67 Kabupaten Kotawaringin Barat, Selasa (6/10/2026), Agustiar turut menekankan pentingnya penanganan karhutla yang berorientasi pada masyarakat terdampak.
“Penanganan karhutla bukan hanya soal pemadaman. Pemerintah harus hadir membantu masyarakat yang terdampak,” demikian pernyataan Agustiar yang dikutip dalam rilis Media Center Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.
Namun, pesan tersebut tidak menjadi bagian yang paling banyak diperbincangkan. Perhatian publik justru tersedot oleh potongan candaan yang beredar di media sosial.
Agustiar kemudian memberikan klarifikasi di Kantor Gubernur Kalimantan Tengah pada Senin (12/10/2026). Ia menjelaskan bahwa ucapannya dimaksudkan sebagai candaan sekaligus ajakan agar masyarakat tidak terus memperdebatkan pihak yang bertanggung jawab atas karhutla.
Meski demikian, klarifikasi itu tidak serta-merta menghentikan kritik.
Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKB, Daniel Johan, menilai candaan tersebut tidak tepat disampaikan ketika masyarakat sedang mengalami musibah. Anggota Komisi II DPR RI Ahmad Irawan juga menekankan bahwa komunikasi pejabat publik harus mempertimbangkan empati.














Discussion about this post