Kaltengtoday.com, Sampit – Rentetan polemik komunikasi Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran kembali menjadi sorotan. Dalam kurun waktu sekitar 18 bulan terakhir, sedikitnya empat insiden komunikasi memicu perbincangan publik, dengan pola yang dinilai membutuhkan evaluasi serius dari tim di lingkar dalam kepala daerah tersebut.
Polemik terbaru muncul pada awal Oktober 2026, ketika Kalimantan Tengah masih menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di tengah situasi tersebut, Agustiar melontarkan candaan dengan memelesetkan peribahasa “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” menjadi “bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi”.
Baca Juga : Pengurus PERGATSI Kalteng Resmi Dilantik, Agustiar Sabran Tekankan Pembinaan Atlet
Ucapan itu kemudian menyebar luas di media sosial dan memicu kritik dari sejumlah kalangan, termasuk anggota DPR RI. Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya juga mengingatkan pentingnya komunikasi kepala daerah yang tidak menimbulkan polemik atau melukai perasaan masyarakat yang sedang menghadapi musibah.
Bagi pengamat hukum dan politik Gumarang, kejadian tersebut bukan persoalan yang berdiri sendiri. Ia menilai, rentetan kontroversi sebelumnya seharusnya sudah menjadi bahan evaluasi bagi orang-orang terdekat gubernur, terutama dalam memberikan masukan mengenai cara menyampaikan pesan kepada publik.
“Disarankan kepada Gubernur Kalteng Agustiar Sabran untuk memperbaiki kualitas gaya komunikasi atau public speaking melalui orang-orang di sekelilingnya. Jangan yang di sekelilingnya hanya bisa menikmati fasilitas saja,” kata Gumarang, Kamis (15/10/2026).
Menurutnya, tanggung jawab menjaga kualitas komunikasi kepala daerah tidak semestinya dibebankan kepada gubernur seorang diri. Tim pendamping, humas, dan pejabat yang berada di lingkar dalam pemerintahan juga perlu berperan aktif dalam mengantisipasi potensi polemik.
Candaan di Tengah Karhutla Menjadi Perhatian Nasional
Polemik terbaru bermula ketika Agustiar menghadiri peringatan Hari Jadi Kabupaten Kotawaringin Barat pada awal Oktober 2026. Saat itu, wartawan menanyakan penanganan karhutla di Kalimantan Tengah.
Dalam jawabannya, Agustiar menyebut bahwa kebakaran tidak hanya berkaitan dengan takdir, tetapi juga ulah manusia. Ia menyampaikan bahwa hampir 97 persen kejadian disebabkan oleh faktor manusia, sebelum kemudian mengajak masyarakat membangun kebersamaan melalui kalimat yang dipelesetkannya.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena muncul ketika masyarakat masih menghadapi dampak kebakaran dan kabut asap.














Discussion about this post