Kalteng Today – Palangka Raya, – Sejumlah masyarakat di Kabupaten Seruyan, tepatnya di Kecamatan Batu Ampar mengeluhkan tingginya standar grading yang patok oleh pabrik kelapa sawit, yakni mencapai 5 persen dari standar normal yang hanya 2 persen.
Hal tersebut tentu dinilai sangat menyulitkan bagi masyarakat sekitar yang berprofesi sebagai pekebun kelapa sawit mandiri atau swadaya di wilayah tersebut. Sehingga perlu adanya sebuah jalan tengah yang dapat memberikan kenyamanan untuk kedua belah pihak.
Hal tersebut diungkapkan oleh Anggota DPRD Kalteng daerah pemilihan (Dapil) II Fajar Hariady, yang meliputi Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dan Seruyan, , pada saat melaksanakan reses beberapa waktu yang lalu.
“Menyikapi hal itu, kami langsung sampaikan aspirasi masyarakat ke pihak pabrik dan respon mereka pun baik. Kami diajak untuk melihat langsung buah produksi kebun dari masyarakat petani setempat dimana buahnya kotor, memiliki tangkai yang panjang dan masa panennya sudah lewat dari 24 jam, sehingga kualitas buah menurun,” kata Fajar Hariady , Minggu (30/8).
Dalam kesepakatan pertemuan itu, menurutnya pihak pabrik sempat menjelaskan, buah sawit dari hasil produksi masyarakat petani diyakini setempat bermalam terlalu lama di kebun dan ini menyebabkan buah menjadi tidak segar lagi serta kandungan asam menjadi cukup tinggi.
“Para petani tersebut harus dibina melalui penyuluhan bukan hanya masalah budidaya sawit, tapi juga tentang bagaimana manajemen mutu yang baik sehingga buah ketika disalurkan masih segar dan memiliki daya serap tinggi,” terangnya.
Fajar menegaskan, peran eksekutif sangat menentukan, karena tanpa adanya campur tangan pemerintah, maka persoalan ini akan selalu berlarut – larut dan masyarakat sekitar akan dirugikan.
“Ini merupakan tugas pemerintah untuk dapat melakukan sosialisasi atau penyuluhan tersebut, agar hasil produksi masyarakat dapat terjaga mutu dan kualitasnya,” tutupnya. [Red]














Discussion about this post